Powered By Blogger

Minggu, 04 Maret 2012

MAKNA TAMPO PEKUREHUA SEBAGAI "TANA PENGHARAPAN"


NAPU secara etimologi adalah sebuah istilah yang memiliki stigma sosial yang diberikan oran pantai (Tobora) kepada orang yg hidup di pegunungan yakni berasal dari kata Naupuramo yang artinya Sudah Mati. Istilah ini muncul sebagai akibat kekalahan dalam perang. Dalam ceritra di sebutkan bahwa cara licik yang digunakan utuk membunuh itu adalah dengan memberi racun pada sumber-sumber air minum di wilayah Timur dengan racun yang diambil dari belut berwarna putih (Mahapi Bula). Akibat kematian massif dan kekalahan itu, masyarakat yang tersisah akhirnya menyingkir ke bagian selatan lembah tersebut dan membangun pemukiman-pemukiman, seperti Kampung Habingka, Baeau, Leboni, Lengaro, Lembokumo, Malibubu. dan lainnya. Istilah Tonapu semakin intes dipergunakan dalam perjumpaan dengan masyarakat pesisir Pantai Lembah Palu karena bersamaan dengan itu masyarakat Pegungan dari Bada hingga Napu menjadi wilayah Taklukan Kerajaan Bora. Dan akibat kekalahan itu, Orang Pegunungan ini setiap tahunnya harus membawa Upeti kepada Kerajaan Bora di Pesisir Pantai Lembah Palu.

Istilah lain yang lebih cultural nama lembah ini adalah Tampo Pekurehua. Secara etimologi diambil dari nyanyian burung KUREU. Istilah ini muncul dari ceritra rakyat tentang dua orang pemuda yang sedang berburuh di padang sekitar Peore untuk mencari hewan. Pada satu puncak bukit di di tengah padang tumbuh Pohon besar yang menjadi rumah dan tempat bersarang burung-burung. Kedua pemuda yang berburu seharian tersebut tiba di tempat itu, lalu segera burung-burung berbunyi, Kureu... Kureu. Kuureu. Kemudian secara naluri alamiah mereka menyebut bukit dan padang sekitarnya itu dengan Kureu. Posisi Lokasi bukit itu berada di bagian Timur Peore. Dan mengikuti dialek (rasa bertutur), Kureu diberi imbuhan sehingga menjadi Pe-Kureu-a (Pekureua). Tetapi kini masyarakat lebih enak menyebutnya dengan Pekurehua.
Dari latar belakang masyarakat budaya, ketika burung Kureu berbunyi itu berarti memberi pesan. Pemuda itu memberi arti bahwa suara burung tersebut adalah sebuah tanda bahwa mereka akan mendapatkan jerih lelah mereka. Lalu segera mereka memasang jerat mereka dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan reseki, sesuai keyakinan budaya mereka atas menafsirkan suara burung tersebut.
Makna lain dari burung Kureu adalah ketika mereka terbang. Bila burung itu terbang melintas lembah Napu dari arah Selatan ke Utara atau Utara - Selatan, itu berarti memberi tanda bahwa ada persoalan yang terjadi dikalangan pemimpin masyarakat. Demikian bila, burung tersebut dari arah Timur ke Barat memberi pesan bahwa ada dikalangan bangsawan yang akan meninggal.

Dari uraian di atas, makna kebudayaan yang dapat dikatan adalah Napu memiliki beban sosial (stigma) dalam relasi dengan masyarakat Pantai dalam hal ini Tokaili. Napu adalah orang yang kalah. Sebuah makna yang memiliki perspektif masa lalu.
Istilah Pekurehua mungkin sedikit memiliki makna Positif yakni Nyanyian alam yang memberi sebuah Pesan Pengharapan. Dan bila diangkat dalam cita rasa kebudayaan,maknanya dapat berarti Lembah Pekurehua adalah Tana Pengharapan. Sebuah makna cultural yang memiliki perspektif masa depan.

MAKNA PERADABAN "TAMPO LORE"

TAMPO lORE adalah istilah lain untuk mengenal lembah ini. Secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu Tampo (Indonesia; Tanah) dan Lore (Indonesia; daerah ketinggian). Bila mengambil makna Lore dari bahasa Pamona artinya adalah tanah yang lincin yang biasanya disebabkan oleh air hujan. Dalam masyarakat Budaya, Tampo Lore menunjuk pada sebidang tanah, atau kawasan yang berada di ketinggian. Tampo Lore juga menjadi sebuah simbol yang mempersekutukan kawasan Ngamba Bada, Behoa Ngamba - Behoa kakau, serta Tampo Pekurehua - Tawaelia.
Khusus makna Lore, kawan Amos Mondolu merefernsi pada makna yang ditemukannya dalam Kamus bahasa asing yaitu Peradaban. Dan di sini saya mengutip pegertian Lore dari kamus bahasa Inggris (Oxford English Dictionary), The stories and traditions of a particular group of people (Indonesia; Kisah dan kebudayaan kelompok masyarakat tertentu). Dan Cambridge Dictionary; Tradition Knowledge (Indonesia; Pengetahuan Budaya.

Menarik untuk mengembangkan rekomendasi Amos Mondolu tentang makna Tampo Lore bila menghubungkannya dengan makna yang dimaksudkan dalam kamus bahasa Inggris. Secara sederhana kita akan menemukan makna Tampo Lore dalam cita rasa kebudayaan yakni Tanah Beradab (Tampo Moada).
Menarik yang saya maksudkan adalah apakah Tana Moada punya kaitan langsung dengan Peradaban Megalit yang terhampar pada semua lembah sepajang sungai Lairiang.
Mulai dari Lembah Sedoa (Tawaelia) terdapat Putri Bunga Manila sebagai simbol Keabadian Cinta. Tiba di Powanuanga Watumaeta, akan ditemukan situs purbakala Jalan peradaban yang menghubungkan dengan Megalit Pekasele dan Pekatalinga di Powanuanga Tamadue. Kemudia jalan tersebut juga menghubungkan dengan Powanuanga Toihuku di Wanga. Dari Wanga, di Watutau akan menemukan Megalit Watu Molindo yang adalah satu-satunya megalit yang berdiri menghadap ke Utara (sayangnya beberapa bulan yang lalu patung ini nyaris dicuri, dan sekarang diamankan di pekarangan rumah Mantan Kepala Desat Watutau).
Selanjutnya, Magalit pasangan Suami istri yang terdapat di kampung Betue. melanjutkan perjalanan, di Rompo (Kawasan Behoa Kakau) terdapat patung seorang tentara perkasa. Mengambil jalang menyimpang sebelum tiba di Katu, akan ditemukan megalit Watu mogaa dan watu meboku yakni seorang ibu yang menggendong bayinya (akan dijelaskan secera khusus). Tidak jauh dari pemukiman di Katu, terdapat ratusan patung prajurit di Toro.
Meneruskan perjalanan ke Behoa Ngamba, di Bariri berdiri megah Megalit Watu Tadulako yakni seorang simbol Pahlawan. Dari Bariri ke arah barat akan tiba di Hanggira maka akan ditemukan hampaan dan berbagai jenis megalit dan kalamba. Melintas ke Ngamba Bada maka akan ditemukan megalit-megalit yang memberi simbok keperkasaan peradaban masa lalu.

Rekomendasi Simbol Identitas:
Kita telah mengenal 3 istilah untuk mengerti identitas,
Napu sebagai stigma sosial yang menunjuk pada kekalahan.
Tampo Pekurehua sebagai simbol Pengharapan, dan
Tampo Lore sebagai simbol Kearifan Budaya.

MENGHADAPI EKSPEDISI TENTARA BELANDA DALAM PERANG LAMBA (1903)

Di lingkungan orang-orang tua pemerhati sejarah leluhur Topekurehua, hampir terlupakan sejarah yang sangat penting mengenai ekspedisi pasukan tentara Belanda pertama ke Tampo Pekurehua. Secara garis besarnya persoalannya diawali dari tindakan sekelompok orang Napu yang gemar melakukan penyerangan-penyerang sporadis ke wilayah Poso yang dipimpin oleh Umana Baturu (Kareba). Kelihatannya kelompok yang dipimpin oleh Kareba ini dapat dikatakan tidak memiliki hubungan dengan garis kebijakan kepemimpinan pasukan yang dipimpin oleh Ama (Umana Soli). Sebut saja bahwa kepemimpinan Umana Baturu yang bermukim di Wuasa adalah kelompok yang melakukan penjarahan dan penyerangan sporadis serta berjalan sendiri yang berada di luar pengetahuan umana Soli di lamba.

Sekitar tahun 1903, Umana Baturu melakukan perampokan sekaligus membakar gudang perbekalan Pemerintah Hindia Belanda di Mapane (Poso). Atas insiden ini, beberapa orang (sekitar 9 orang) ditangkap dan dipenjarakan di Mapane termasuk pemimpinnya. Namun beberapa saat kemudian mereka berhasil melarikan diri dari tahanan dan menyembunyikan diri di perkampungan Wuasa.
(Perlu menjadi perhatian mengenai sejarah kritis bahwa tindakan Umana Baturu membakar gudang perbekalan di mapane oleh penulis sejarah Kaili menyebut sebagai perintah dari Tadulako Kalili. Pesan ideologis yang ingin dikatakan oleh penulis sejarah bahwa seluruh tindakan orang Napu terhadap penyerangan-penyerangan ke Poso adalah perintah dari penguasa Kalili sebagai konsekuensi sebagai daerah taklukan). Catatan selanjutnya bahwa kebiasaan Tonapu mengayau ke wilayah Poso sekaligus bermotifkan kepentingan ekonomi (perampokan terutama hasil ladang), dan ini kebiasaan yang tidak memiliki hubungan struktural dengan kerajaan Bora. Artinya Mengayau dan Perampokan ke wilayah Poso bukan atas perintah Kerajaan Bora.

Pelarian para tahanan tersebut, diikuti dengan pengejaran oleh Tentara Belanda yang dipimpin oleh Letnan Voskuil ke wilayah Napu melalui jalan dari Pinedapa yang baru 1 tahun sebelumnya di buka(1902). Saat tentara Belanda tiba di lembah Pekurehua untuk menangkap umana Baturu dan anak buahnya, tentara langsung menuju ke Lamba yang menjadi pusat kekuasaan, (sementara kelompok yang akan ditangkap bersembunyi di Wuasa). Konsekuensinya, Belanda langsung berhadapan dengan Umana Soli yang tidak mengetahui persoalan.
Menghadapi karakter kepahlawanan Umana Soli yang tidak mengenal kata menyerah, sehingga ia memilih melawan dari pada memenuhi permintaan Belanda untuk menyerahkan Umana Baturu dan kawan-kawannya. Dalam perang di Lamba, masih terlalu tangguh kekuatan budaya yang dimiliki oleh Ama dan pasukannya sehinga tentara Belanda yang sekalipun telah memakai persenjataan modern praktis tidak dapat menaklukkan umana Soli. Letnan Voskuil tidak berhasil menerobos benteng pertahanan di lamba sekalipun hanya terbuat dari rumpun-rumpun bambu. Tentara-tentara Belanda berhari-hari mengepung mengepung benteng pertahanan tersebut dengan sekali-kali melakukan tembakan senapan mesin yang diarakan secara membabi buta tampa sasaran yang jelas.

Setelah cukup lama tidak lagi terdengan suara tembakan dan diperkirakan tidak ada lagi tentara Belanda di sekitar benteng, Umana Soli meminta anaknya tertua (Soli) untuk mengamati situasi di luar. Sayangnya Tentara Belanda masih mengawasi benteng tersebut berhasil menangkap Soli lalu membawanya ke Poso. Dari Poso, Soli ditawan ke Manado untuk diperlihatkan kepada Gubernemen. Dan Soli tetap dalam pengasingan di Manado hingga akhir hayatnya.

Salam dalam Persaudaraan
Asyer

Rabu, 30 November 2011

KERINDUANKU MENYALAHKAN LILIN DI TAMBI

Latar tata bangunan
TAMBI adalah istilah lokal yang dipakai di seluruh wilayah Tampo Lore untuk menunjuk pada rumah yang secara fungsional sebagai tempat tinggal satu rumpun keluarga atau pada zaman lampau tempat tinggal beberapa keluarga. Pada zaman lampau, seorang lelaki sebagai kepala keluarga dapat saja memiliki istri lebih dari satu (dalam bahasa lokal disebut mokarodua) dan tinggal bersama kedua istrinya dalam satu Tambi. Juga termasuk orang tua, (nenek kakek).
Dari bentuk bangunan rumah, Tambi berbentuk segi empat dan pada keempat sisinya berfungsi sebagai tempat tidur dan untuk menyimpan barang-barang milik anggota keluarga. Jadi bisa dibayangkan bagimana suasana hidup satu keluarga pada ruangan yang terbuka, tidak ada sekat (kamar) yang memisahkan satu dengan yang lainnya.
Sayangnya pada hari ini bangunan Tambi yang tersisah, terdapat di Kampung Katu, Doda dan Hanggira (Behoa).

Di posisi bangian tengah rumah terdapat dapur untuk tempat memasak yang digunakan oleh semua orang. Dapur adalah pusat perjumaan untuk saling memperhatikan saling melayani, bahkan menjadi tempat saling memaklumi perbedaan, kekurangan dan kelebihan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Dalam konteks masyarakat yang hidup di daerah pegunungan yang udaranya dingin,
posisi dapur untuk tempat menyalahkan api sekaligus berfungsi untuk tempat menghangatkan tubuh.
Demikian juga, dapur menjadi tempat untuk menerima tamu.
Suasana hidup keluarga yang dekat dan terbuka satu dengan yang lain.
Hampir tidak ada wilayah privacy.

Rekonstruksi Makna
Susana bangunan ruang kehidupan di dalam Tambi, sangat membantu untuk merekonstruksi makna kehidupan masyarakat Tampo Lore.

Dapur dan Api yang berada di tengah-tengah pusat aktifitas kehidupan telah menjadi kekuatan terbangunannya kehangatan hubungan kekeluargaan. Seorang Kepala keluarga yang memiliki istri, bahkan lebih dari satu, dengan jumlah anggota keluarga yang banyak dapat mengontrol dan membagi perhatian satu terhadap yang lain. Dapur benar-benar menjadi kekuatan yang mempersatukan, kekuatan yang menghangatkan persaudaraan dalam hubungan Suami dan Istri, hubungan orang tua dan anak-anak, hubungan antara anak-anak. Suasanan kehidupan inilah yang kemudian disebut dalam format budaya sebagai HANTAMBIANA.

Pola hidup Hantambiana inilah sebagai tempat lahir dan terbinanya nilai hidup (etika).
Kedua orang tua akan menyapa anak mereka dengan Ananta (anak kita)
Sebaliknya, anak-anak akan menyebut orang tua mereka Umanta hai Inanta.
Dan hubungan antara satu tambi dengan tambi lainya akan saling menyapa dengan sebutan Halalunta (Saudara kita).

Makna yang Berubah
Tergerusnya Tambi dari pemandangan sehari-hari dan digantikan oleh arsitektur bangunan yang modern serta merta membawa dampak perubahan dalam pola hidup kekeluargaan.
Bangunan rumah modern telah terdiri atas sekat-sekat. Orang tua berbeda kamar dengan anak-anak mereka. Dan anak-anak memiliki kamarnya masing-masing. Ruang kehidupan ini secara tidak langsung telah mengakui bahwa setiap orang memiliki wilayah privacy (pribadi) yang tidak boleh dimasuki oleh yang lainnya. Bahkan termasuk orang tuapun tidak boleh mengintervensinya.
Inilah nilai yang dihasilkan oleh peradaban modern.
Terlebih kencenderungan pada keluarga hari ini, enggannya untuk memiliki anak dalam jumlah besar. Akhirnya masing-masing orang tua mengidolakan (membedakan) secara emosional anak-anak. Bapak dekat dengan anak ini dan sebaliknya seorang Ibu dekat dengan anak tertentu.
Demikian selanjutnya perubahan ini semakin diperkuat oleh pola hidup generasi Tampo Pekurehua yang memiliki pengalaman dan terbangun emosional mereka dengan pola hidup di tempat-tempat lain, seperti mereka yang hidup di kota metropolitan.
Mentalitas Ego (saya adalah) menjadi sangat dominan.

Karakter nilai hidup Ego ini serta merta memberi pengaruh dalam relasi kekeluargaan.
Hubungan antara Suami - Istri; hunbungan orang tua dengan anak serta hubungan antara anak-anak akan dipengaruhi beban pemikiran kepentingan dan hubunga emosional pribadi.
Terjadi pergeseran kerenggangan kekelurgaan.
Seorang suami akan mengatakan kepada istrinya, lihat itu anak-mu!
Sebaliknya, seorang ibu akan mengatakan pada suaminya, Lihat itu anak-mu!
Demikian berdasarkan hubungan emosional berdasarkan beban kepentingan pribadi akan mengatakan Umangku atau Inangku.

Relasi emosinal kekerabatan yang berubah :
Dari sisi orang tua : Ananta ................................ Anamu
Anak-anak : Umanta atau Inanta .............. Umangku atau Inangku
Relasi antara Tambi : Halalunta ............................ Halalungku.

Refleksi Menyambut Natal
Tidak mungkin kita semua masyarakat Tampo Lore akan kembali ke dalam ruang kahidupan di Tambi. Tetapi, semangat HANTAMBIANA perlu pemaknaan kembali dan perayaan Natal 2011 ini adalah ruang bagi kita untuk menjadikannya :
a. Tambi kita jadikan tempat merangkai Pohon Natal sebagai simbol persaudaraan untuk hidup bersama dalam memperhatikan, menolong dan melayani.
b. Tambi yang menyiapkan ruang terbuka menjadikannya tempat menyalakan LILIN untuk menghangatkan persaudaraan dan memperkuat kekeluargaan kita.
c. Tambi sebagai rumah di mana kita dilahirkan dan bertumbuh menjadikannya tempat meletakkan Palungan Natal yang adalah simbol hati kita yang tulus untuk menutur kata yang hampir pudar ANANTA, UMANTA, INANTA hai HALALUNTA.

Renungan Malam untuk kekasih JIwaku,
Selamat Menyongsong Natal 2011.

Selasa, 29 November 2011

S. KABO PEWARIS KHARISMA KEPEMIMPINAN POLITE ( bagian 4)

oleh : ASYER TANDAPAI

Sejarah Tampo Lore modern sepanjang abad 20, dapat dikatakan sangat dipengaruhi oleh pondasi kharisma kepemimpinan yang dibangun dan ditinggalkan oleh POLITE.
Dari lingkungan keluarganya, muncul nama-nama yang kemudian meneruskan kepemimpinan bagi masyarakat Tampo Lore.

1. Bentu (anak angkat) adalah tokoh penting hadirnya kekeristenan yang dimulai dari lingkungan Tuana dan kemudian menjadi indentitas religiousitas seluruh masyarakat Tampo Lore.

2. MOSO, anak perempuan dari perkawinan dengan MBALE, adalah simbol yang mempersatukan dua rumpun masyarakat budaya, Pekurehua - Tawaelia, yaitu dari perkawinan dengan SAMPALI, Tuana yang berasal dari Sedoa.

3. Saudara (S) Kabo adalah anak kandung dari pasangan keluarga POLITE - KABO yang menjadi simbol perjumpaan masyarakat Lore dengan pendidiikan modern yang diperkenalkan oleh Pendidik Humanis dari Belanda.

4. Titus La'u adalah salah seorang yang berasal dari lingkungan keluarga Polite di Wanga kemudian menjadi simbol pemimpin masyarakat Lore pasca S. Kabo. (akan ditulis kemudian)

Dan pada tulisan sangat sederhana ini, perhatian akan di batasi pada S. Kabo.
S. Kabo adalah putra tunggal dan dua orang saudari putrinya dari perkawinan POLITE-KABO.
S. Kabo dilahirkan pada 07 - 10 - 1914 di Watutau dan selanjutnya memulai pendidikan di sekolah zending di sana. Menyelesaikan pendidikan dasar selama tiga tahun di kampung kelahirannya, kemudian orang tuanya mengantar untuk meneruskan ke sekolah sambungan yang berada di Poso.
Lalu berdasarkan kemampuan potensi intelektual sehingga memenuhi syarat untuk melanjutkan pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai Bahasa Penganatar, HIS, dalam proses belajar mengajar di Poso.
Menyelesaiakn pendidikan dari Holand Indische School, S. KABO sebagai orang yang pertama dari Midden Celebes (Sulawesi Tengah) yang diterima untuk bersekolah di OSVIA yaitu sekolah khusus bagi mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di pemerintahan.
Berita suka cita ini di sambut antuasias oleh keluarga. Secara khusus Polite mempersiapkan segengam emas sebagai modal yang sangat bernilai ketika itu untuk memberangkatkan putranya. Dari Wanga setelah meminta restu kepada orang tua, S. Kabo kembali ke Poso. Kemudian berjalan kaki melewati Pegunungan Takolekaju, deretan pegunungan rimba raya yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, lalu tiba di Pelabuhan tradisional Wotu menumpang kapal tradisionail ke Malili untuk berangkat ke Makassar dengan Kapal Pemerintah yang terjadwal setiap dua minggu.

OSVIA Makassar adalah sekolah yang menampung dan mendidik murid-murid berprestasi dari kawasan Timur Indonesia yang akan disiapkan menjadi pemimpin di bidang pemerintahan.
S. Kabo menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1939, lalu setahun kemudian memulait tugas pertama di Sangir Talaud. Di tempat tugas perama, S. Kabo menemukan Gadis Manis, dari lingkungan keluarga bermagra Kansil, yang kemudian menjadi Pasangan Hidupnya. Dari Sangir Talaud, S. Kabo dimutasi di Luwuk Banggai lalu seterusnya di kembalikan ke negeri asalnya Poso.
Ketika Deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada keinginan untuk menunjuk W. L. Talasa, anak dari bapak Talasa, Mokole Banke Lemba Ntana Poso, sebagai Kepala Pemerintahan di Poso. Pertimbangannya, selain anak dari pemimpin kultural Tana Poso, W.L. Talasa juga baru saja kembali dari mengikuti Konferensi Raja-Raja se Sulawesi di Watampone dan Gowa Makassar, tetapi karena latar belakang pendidikannya yang hanya tamat pada sekolah Lanjutan Pertama dan mendapat pendidikan di sekolah Khatolik di Manado, sehingga Johanes Kruyt keberatan pengangkatan tersebut.
Dan Johanes Kruyt yang kembali ke Poso dari penahanannya pada masa Pendudukan Jepang di Manado, sekitar bulan September, menunjuk S. KABO sebagai Kepala Pemerintahan Poso. Keputusan ini mempertimbangkan latar belakang pendidikan Kabo yang berasal dari OSVIA Makassar. Tetapi, karena situasi pergolakan politik ketika itu sehingga status pemerintahan sendiri tidak jelas, terutama gangguan pertarungan politik lokal.

Selain bertugas di Poso di tengah situasi belum menentu, S. Kabo juga harus mengantikan tugas ayahnya Kabo yang meninggal tahun 1946 yang bertanggungjawab sebagai Magau Tampo Lore yang membawahi pemerintahan Biti Magau di Behoa dan Biti Magau di Bada.

Silih berganti pemerintahan, dan pada tahun 1955, S. Kabo di angkat sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Poso.
Ketika teradi krisis Politik di penghujung tahun desember 1957 - 1958, pertarungan antara Gerekan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) dengan Tentara PERMESTA di Poso, S. Kabo menjadi korban Politk dan nyaris meninggal dalam sekapan GPST.
Peristiwanya, ketika Pemuda-Pemuda GPST berhasil mengusir Tentara Permesta dan merebut Kota Poso, mereka menemukan S. Kabo di Kantor KPN, lalu pemuda-pemuda menangkap dan membawanya ke Tagolu dengan tuduhan tunggal sebagai Bupati Permesta. Bersyukur pada saat itu, Ia diselamatkan oleh Letnan Sanusi lalu membawanya mengungsi ke Parigi.
Atas tuduhan sebagai Bupati Permesta S. Kabo ditahan di Palu lalu kemudian dipindahkan ke Manado untuk menjalani persidangan militer.

Tahun 1964, Pengadilan Oditur Militer memutuskan bahwa S. Kabo diinyatakan tidak bersalah karena SK Pengangkatan sebagai KPN Poso adalah berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri. Bukan SK yang dikeluarkan Gubernur Sulawesi Utara ketika itu.
Kemudian, ia dikembalikan ke Sulawesi Tengah - Palu dan diangkat sebagai Residen Kordinator, RESKOR, yang umumnya dikenal oleh publik sebagai Gubernur Muda Provinsi Sulawesi Tengah.
S. Kabo kembali pada keabadian sorgawi pada 26 Djuni 1982 dan dibaringkan bersama leluhurnya di Wanga.

Renungan Malam untuk kekasih jiwaku
Dari orang Kampung yang rindu kampung sehingga sedikit kampungan.

SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 2)

OLEH : ASYER TANDAPAI

POLITE adalah Sosok Perempuan Kuat dan Bijaksana yang menjadi simbol loyalitas kolektif masyarakat dan sealigus simbol penolakan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Paca Perang Peore 1907, pada tahun berikutnya direncanakan untuk menyusun kekuatan dan perlawanan terhadap Pemerintah Belanda yang berkedudukan di Poso. Sayangnya rencana tersebut terdeteksi dan akhirnya dilakukan penangkapan dan pembuangan beberapa orang ke Manado.

Kelihatannya, motif pemberian gelar Raja kepada Polite yang secara dejure adalah simbol pemerintahan dan sebaliknya pengangkatan Kabo (suami Polite) sebagai Magau yang berfungsi menjalankan pemerintahan adalah dalam kerangka untuk memutus hubungan emosional masyarakat terahadap Pemimpin kultural mereka yang sesungguhnya.
Kebijakan ini akhirnya berhasil menggeser peran dan wibawah Polite ke tempat yang dipersepsi bahwa seorang istri yang baik adalah harus bertanggung jawab mengatur rumah tangganya. Tanggungjawab inilah yang berkembang hingga di akhirhayatnya dan masyarakat mengenalnya dengan sebutan TOTUA I PODAKA. Dan sebaliknya, jadilah Kabo yang lebih banyak berkomunikasi dan lebih dikenal oleh masyarakat.

Dampak lain kehadiran Pemerintah Belanda adalah tumbuhnya sikap pro dan kontra dalam kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya, stigma sosial yang menuduh bahwa lingkungan keluarga besar Polite (Budaya Kraton Jawa menyebut Kelompok Abdi Dalem) memiliki pengetahuan Ilmu Sihir yang bertentangan dengan kaidah-kaidah sosial dan budaya. Inilah salah satu alasan Polite demi memelihara kewibawaan dan menyelamatkan masyarakatnya dari konflik dengan memboyong keluarga besarnya dan membangun perkampungan baru di Wanga pada tahun 1923-1925. Kebijakan perpindahan ini sejalan dengan program Pemerintah Belanda untuk memerkenalkan Sistem Pertanian Sawah. Walaupun demikian ada aura romantika yang mengatakan bahwa salah satu motif kepindahan tersebut adalah menghindari rivalitas antara Magau dengan seseorang demi memperebutkan seseorang.

Kearifan lain Polite adalah sikapnya yang menerima keputusan Magau untuk menikah denga seorang Perempuan cantik dan lebih muda di Kampung Torire. Sebenarnya dalam budaya Tampo Lore menikah lebih dari satu (Poligami) itu diterima yang dalam bahasa kebudayaannya disebut Mokarodua. Tetapi budaya ini telah mengalami masa krisis karena ajaran kekristenan yang mempersoalkannya. Karena itu, kearifan yang lebih dalam dimaksudkan adalah sikap penerimaan Polite pada kehadiran seorang perempuan cantik dan lebh muda untuk tinggal bersama dalam satu rumah, sementara ia sendiri telah diposisikan menanggung stigma TOTUA I PODAKA. Bahkan pada tahun kematian Kabo, 22 Djuni 1946, Polite menyerahkan satu kawanan, sekitar 50-100, ekor kerbau kepada istri kedua yang permisi untuk kembali ke kampungnya di Torire.

Ada hikmat yang sangat penting untuk belajar dari sikap hidup Polite yaitu keberpihakannya pada pendidikan yang melampau pandangan zamannya ketika itu. Sudara (S) Kabo, Putra tunggalnya, adalah orang pertama dari Midden Selebes yang mengikuti pendidikan resmi bagi calon pegawai Pemerintah Belanda yang bersekolah di OSVIA Makassar. Awal tahun 1930-an, S Kabo diberangkatkan dalam ketulusan, sekalpun harus berjalan kaki dari Poso melewati Pegunungan Taolekaju ke arah Selatan untuk tba di Makassar, untuk bersekolah. Sebuah visi bahwa masa depan masarakat dan negerinya harus dipimpin oleh generasi muda yang berpendidikan. Setelah S. Kabo menyeleseikan pendidikan di OSVIA Makassar tahun 1938, ia ditugaskan pertama kali di Sangir Talaud. Dan pada awal kemerdekaan, sekitar bulan September 1945, di tetapkan sebagai Kepala Pemerintahan Negeri Poso.
Yang menarik dari pandangan hidup Polite bahwa sebenarnya Ia ingin kedua putrinya juga bersekolah, hanya zamannya ketika itu belum memberi kesempatan kepada perempuan. Tetapi ia tidak berkecil hati dan memikirkan jalan lain mengijinkan kedua putrinya untuk mengikuti saudara laki-laki mereka, S. Kabo, yang bertugas di Sulawesi Utara dengan harapan bahwa mereka mendapatkan suami yang memiliki latar belakang pendidikan.
Yang ingin dikatakan di sini tentang kearifan Polite adalah kerelaan melepas anak-anaknya, Putra-Putri, untuk hidup terpisah dengan orang tua dengan harapan untuk mendapatkan pendidikan.
Itulah Sosok Perempuan Berkharisma.

Renungan Malam untuk Kekasih Jiwaku.
Dari Orang Kampung yang Cinta Kampung sehingga Sedikit Kampungan

SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 1)

OLEH : ASYER TANDAPAI

Dalam ingatan masyarakat budaya Tampo Lore yang meliputu Ngamba Bada, Ngamba Behoa dan Tampo Pekurehua - Tawaelia, Polite adalah sosok perempuan yang berkharisma dalam sejarah. Ayahnya adalah Abu yang berasal dari lingkungan Pemimpin masyarakat, dalam konsep Budaya Pekurehua disebut Tuana, yang awalnya menetap di Wanua Habingka. Namun karena dipilih oleh para tua-tua adat adat untuk memegang pemerintahan, sehingga keluarga ini berpindah ke Lamba yang menjadi pusat pemerintahan sebelum masuknya Belanda pada awal abad 20.

Sebagai seorang perempuan anggun dari lingkungan keluarga Tuana, Polite menikah dari lingkungan keluarga dekat (kerabat) yakni Mbale. Dari Pernikahan Polite - Mbale sebenarnya dikarunia 3 orang anak, tetapi beruntun yang 1 dan 2 meninggal. Persoalan ini oleh tua-tua adat dilihat sebagai kesalahan budaya karena menikah dalam lingkungan keluarga dekat. Sehingga itu ketika sedang mengandung anak ke-3, pernikahan mereka dipisahkan dan juga sebagai tindakan untuk menyelamatkan bayi yang dikandung. Dan pada akhirnya, Polite melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Moso. Nama itu sendiri memiliki makna budaya yang berarti Mamoso (mujarab). Kehadiran anak semata wayang tersebut sekaligus merubah status Polite dengan panggilan akrab Inana Moso. Kemudian hari Moso menikah dengan seorang pemuda bernama Sampali yang berasal dari lingkungan keluarga di Sedoa (Tawaelia).

Tidak begitu lama setelah melahirkan, Polite menikah dengan seorang Pemuda yang umurnya lebih muda (selisih sekitar 15- 20 tahun) bernama Kabo (lahir 1890). Dan dari pernikahan Polite - Kabo dikarunia seorang anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Anak laki-laki bernama S. Kabo yang mewarisi kharisma kepemimpinan ayah dan ibunya yang kemudian hari menghantarnya menduduki banyak abatan penting di Sulawesi Utara - Tengah, dan terakhir menjabat sebagai Gubernur Muda Propinsi Sulawesi Tengah.

Kharisma Polite, selain berdasarkan dari garis keturunan Tuana, keterlibatan dalam peristiwa Perang Peore 1907 semakin mengokohkan kebesarannya.
Perang besar yang melibatkan Tentara Pemerintah Hindia Belanda yang menggunakan persenjataan modern ketika itu berhadapan denga prajurit-prajurit Pekurehua yang menggunakan Penai (Parang yang dipercaya memiliki kekuatan) dan Tombak. Bagi Pemerintah Hindia Belanda. Perang Peore merupakan perang yang terakhir sebagai simbol takluknya perlawanan-perlawanan masyarakat lokal di seluruh Sulawesi. Ketika Perang Peore berlangsung dan korban tewas berkelimpangan di kedua pihak, Polite yang juga pada lengannya terhunus Penai juga menjadi sasaran tembkan Tentara Hindia Belanda. Namun kharisma yang dimilikinya hanya menyisahkan bekas lubang-lubang amunisi pada pakaian yang digunakan. Itulah sebuah bukti kebesaran Polite yang dapat selamat dari sasaran tembak membabi buta yang ditujukan ke tubuhnya. Ketika melihat mayat bergelimpang, sebagai rasa heroisme dan tanggung jawab masyarakat yang dipimpinnya untuk mengurangi korban jiwa yang akan terus berjatuhan, pada akhirnya Polite mengambil inisiatif naik ke atas rumah kekuasaannya (Duhunga) lalu mengibarkan bendera Putih sebagai tandah perang dihentikan.

Perang berakhir, masyarakat Tampo Lore berduka atas tewasnya pemimpin mereka, Umana Soli (Ama) dan sejumlah prajuritnya. Demikian Letnan Van Inget, Pemimpin Prajurit Hinda Belanda tewas bersama sejumlah besar pasukannya. Tersisa 2 orang dan berhasil melarikan diri dan memberi laporan kepada pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Poso.
Tewasnya Umana Soli (Ama) menjadi titik penting untuk melihat bagaimana kepemimpinan berpusat pada Sosok Seorang Perempuan yang sangat berkharisma. Kewibawaannya memimpin masyarakat untuk keluar dari perasaan trauma akbit perang adalah lahir dari pengalaman Peristiwa Perang yang dialaminya sendiri. Sehingga itu pada masanya, Polite adalah sosok yang sangat kuat dan dihormati oleh masyarakat yang dipimpinya.
Namun kemudian, setelah Tampo Lore telah berada dalam pengaturan tata Pemerintahan Hindia Belanda, Pemerintah melakukan semacam de-politisasi yakni mengurangi peran kepemiminan Tokoh Perempuan Berkharisma dengan mengangkat Kabo, suami Polite, sebagai pelaksana pemerintahan yaitu dengan gelar Magau. Gelar ini sendiri diadopsi dari gelar kepemimpinan tradisionil di Parigi dan Sigi.

Politik Pemerintah Hindia Belanda membuat pemisahan fungsi kepemimpinan, Polite diberi gelar Raja sebagai simbol kekuasaan dan Kabo diangkat sebagai pelaksana pemerintahan dengan gelar Magau. Tetapi dengan berkurangnya peran-peran kemasyarakatan Seorang Pemimpin Perempuan berkharisma pada akhirnya semakin mengantarkan hingga diakhir hanyatnya dengan sapaan yang akrab di Panggil Totua I Podaka. Artinya, Politik Belanda berhasil menyingkirkan peran kepemimpinan perempuan yang memiliki akar kultural dan sejarah perjuangan, kemudian digantikan dominasi kaum Patriakhal (laki-laki) sekalipun tidak memiliki kekuatan budaya sebagaimana istrinya. Akhirnya demikianlah politik berhasil menyudutkan perempuan untuk hanya mengurus Dapur. Totua I Podaka artinya orang Tua yang ada di dapur.

Renungan untuk Kekasih Jiwaku
Dari Orang Kampung yang Rindu Kampung sehingga sedikit Kampungan