oleh : ASYER TANDAPAI
Sejarah Tampo Lore modern sepanjang abad 20, dapat dikatakan sangat
dipengaruhi oleh pondasi kharisma kepemimpinan yang dibangun dan
ditinggalkan oleh POLITE.
Dari lingkungan keluarganya, muncul nama-nama yang kemudian meneruskan kepemimpinan bagi masyarakat Tampo Lore.
1. Bentu (anak angkat) adalah tokoh penting hadirnya kekeristenan yang
dimulai dari lingkungan Tuana dan kemudian menjadi indentitas
religiousitas seluruh masyarakat Tampo Lore.
2. MOSO, anak perempuan
dari perkawinan dengan MBALE, adalah simbol yang mempersatukan dua
rumpun masyarakat budaya, Pekurehua - Tawaelia, yaitu dari perkawinan
dengan SAMPALI, Tuana yang berasal dari Sedoa.
3. Saudara (S) Kabo
adalah anak kandung dari pasangan keluarga POLITE - KABO yang menjadi
simbol perjumpaan masyarakat Lore dengan pendidiikan modern yang
diperkenalkan oleh Pendidik Humanis dari Belanda.
4. Titus La'u
adalah salah seorang yang berasal dari lingkungan keluarga Polite di
Wanga kemudian menjadi simbol pemimpin masyarakat Lore pasca S. Kabo.
(akan ditulis kemudian)
Dan pada tulisan sangat sederhana ini, perhatian akan di batasi pada S. Kabo.
S. Kabo adalah putra tunggal dan dua orang saudari putrinya dari perkawinan POLITE-KABO.
S. Kabo dilahirkan pada 07 - 10 - 1914 di Watutau dan selanjutnya
memulai pendidikan di sekolah zending di sana. Menyelesaikan pendidikan
dasar selama tiga tahun di kampung kelahirannya, kemudian orang tuanya
mengantar untuk meneruskan ke sekolah sambungan yang berada di Poso.
Lalu berdasarkan kemampuan potensi intelektual sehingga memenuhi syarat
untuk melanjutkan pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai
Bahasa Penganatar, HIS, dalam proses belajar mengajar di Poso.
Menyelesaiakn pendidikan dari Holand Indische School, S. KABO sebagai
orang yang pertama dari Midden Celebes (Sulawesi Tengah) yang diterima
untuk bersekolah di OSVIA yaitu sekolah khusus bagi mereka yang
dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di pemerintahan.
Berita suka
cita ini di sambut antuasias oleh keluarga. Secara khusus Polite
mempersiapkan segengam emas sebagai modal yang sangat bernilai ketika
itu untuk memberangkatkan putranya. Dari Wanga setelah meminta restu
kepada orang tua, S. Kabo kembali ke Poso. Kemudian berjalan kaki
melewati Pegunungan Takolekaju, deretan pegunungan rimba raya yang
menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, lalu tiba di
Pelabuhan tradisional Wotu menumpang kapal tradisionail ke Malili untuk
berangkat ke Makassar dengan Kapal Pemerintah yang terjadwal setiap dua
minggu.
OSVIA Makassar adalah sekolah yang menampung dan
mendidik murid-murid berprestasi dari kawasan Timur Indonesia yang akan
disiapkan menjadi pemimpin di bidang pemerintahan.
S. Kabo
menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1939, lalu setahun kemudian
memulait tugas pertama di Sangir Talaud. Di tempat tugas perama, S. Kabo
menemukan Gadis Manis, dari lingkungan keluarga bermagra Kansil, yang
kemudian menjadi Pasangan Hidupnya. Dari Sangir Talaud, S. Kabo dimutasi
di Luwuk Banggai lalu seterusnya di kembalikan ke negeri asalnya Poso.
Ketika Deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada
keinginan untuk menunjuk W. L. Talasa, anak dari bapak Talasa, Mokole
Banke Lemba Ntana Poso, sebagai Kepala Pemerintahan di Poso.
Pertimbangannya, selain anak dari pemimpin kultural Tana Poso, W.L.
Talasa juga baru saja kembali dari mengikuti Konferensi Raja-Raja se
Sulawesi di Watampone dan Gowa Makassar, tetapi karena latar belakang
pendidikannya yang hanya tamat pada sekolah Lanjutan Pertama dan
mendapat pendidikan di sekolah Khatolik di Manado, sehingga Johanes
Kruyt keberatan pengangkatan tersebut.
Dan Johanes Kruyt yang
kembali ke Poso dari penahanannya pada masa Pendudukan Jepang di Manado,
sekitar bulan September, menunjuk S. KABO sebagai Kepala Pemerintahan
Poso. Keputusan ini mempertimbangkan latar belakang pendidikan Kabo yang
berasal dari OSVIA Makassar. Tetapi, karena situasi pergolakan politik
ketika itu sehingga status pemerintahan sendiri tidak jelas, terutama
gangguan pertarungan politik lokal.
Selain bertugas di Poso di
tengah situasi belum menentu, S. Kabo juga harus mengantikan tugas
ayahnya Kabo yang meninggal tahun 1946 yang bertanggungjawab sebagai
Magau Tampo Lore yang membawahi pemerintahan Biti Magau di Behoa dan
Biti Magau di Bada.
Silih berganti pemerintahan, dan pada tahun 1955, S. Kabo di angkat sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Poso.
Ketika teradi krisis Politik di penghujung tahun desember 1957 - 1958,
pertarungan antara Gerekan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) dengan Tentara
PERMESTA di Poso, S. Kabo menjadi korban Politk dan nyaris meninggal
dalam sekapan GPST.
Peristiwanya, ketika Pemuda-Pemuda GPST berhasil
mengusir Tentara Permesta dan merebut Kota Poso, mereka menemukan S.
Kabo di Kantor KPN, lalu pemuda-pemuda menangkap dan membawanya ke
Tagolu dengan tuduhan tunggal sebagai Bupati Permesta. Bersyukur pada
saat itu, Ia diselamatkan oleh Letnan Sanusi lalu membawanya mengungsi
ke Parigi.
Atas tuduhan sebagai Bupati Permesta S. Kabo ditahan di
Palu lalu kemudian dipindahkan ke Manado untuk menjalani persidangan
militer.
Tahun 1964, Pengadilan Oditur Militer memutuskan bahwa
S. Kabo diinyatakan tidak bersalah karena SK Pengangkatan sebagai KPN
Poso adalah berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri. Bukan SK yang
dikeluarkan Gubernur Sulawesi Utara ketika itu.
Kemudian, ia
dikembalikan ke Sulawesi Tengah - Palu dan diangkat sebagai Residen
Kordinator, RESKOR, yang umumnya dikenal oleh publik sebagai Gubernur
Muda Provinsi Sulawesi Tengah.
S. Kabo kembali pada keabadian sorgawi pada 26 Djuni 1982 dan dibaringkan bersama leluhurnya di Wanga.
Renungan Malam untuk kekasih jiwaku
Dari orang Kampung yang rindu kampung sehingga sedikit kampungan.
Setau Saya Opa Kabo Lahir Tahun 1890 Dan Mempunyai istri Ke 2
BalasHapus