Powered By Blogger

Selasa, 29 November 2011

S. KABO PEWARIS KHARISMA KEPEMIMPINAN POLITE ( bagian 4)

oleh : ASYER TANDAPAI

Sejarah Tampo Lore modern sepanjang abad 20, dapat dikatakan sangat dipengaruhi oleh pondasi kharisma kepemimpinan yang dibangun dan ditinggalkan oleh POLITE.
Dari lingkungan keluarganya, muncul nama-nama yang kemudian meneruskan kepemimpinan bagi masyarakat Tampo Lore.

1. Bentu (anak angkat) adalah tokoh penting hadirnya kekeristenan yang dimulai dari lingkungan Tuana dan kemudian menjadi indentitas religiousitas seluruh masyarakat Tampo Lore.

2. MOSO, anak perempuan dari perkawinan dengan MBALE, adalah simbol yang mempersatukan dua rumpun masyarakat budaya, Pekurehua - Tawaelia, yaitu dari perkawinan dengan SAMPALI, Tuana yang berasal dari Sedoa.

3. Saudara (S) Kabo adalah anak kandung dari pasangan keluarga POLITE - KABO yang menjadi simbol perjumpaan masyarakat Lore dengan pendidiikan modern yang diperkenalkan oleh Pendidik Humanis dari Belanda.

4. Titus La'u adalah salah seorang yang berasal dari lingkungan keluarga Polite di Wanga kemudian menjadi simbol pemimpin masyarakat Lore pasca S. Kabo. (akan ditulis kemudian)

Dan pada tulisan sangat sederhana ini, perhatian akan di batasi pada S. Kabo.
S. Kabo adalah putra tunggal dan dua orang saudari putrinya dari perkawinan POLITE-KABO.
S. Kabo dilahirkan pada 07 - 10 - 1914 di Watutau dan selanjutnya memulai pendidikan di sekolah zending di sana. Menyelesaikan pendidikan dasar selama tiga tahun di kampung kelahirannya, kemudian orang tuanya mengantar untuk meneruskan ke sekolah sambungan yang berada di Poso.
Lalu berdasarkan kemampuan potensi intelektual sehingga memenuhi syarat untuk melanjutkan pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai Bahasa Penganatar, HIS, dalam proses belajar mengajar di Poso.
Menyelesaiakn pendidikan dari Holand Indische School, S. KABO sebagai orang yang pertama dari Midden Celebes (Sulawesi Tengah) yang diterima untuk bersekolah di OSVIA yaitu sekolah khusus bagi mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di pemerintahan.
Berita suka cita ini di sambut antuasias oleh keluarga. Secara khusus Polite mempersiapkan segengam emas sebagai modal yang sangat bernilai ketika itu untuk memberangkatkan putranya. Dari Wanga setelah meminta restu kepada orang tua, S. Kabo kembali ke Poso. Kemudian berjalan kaki melewati Pegunungan Takolekaju, deretan pegunungan rimba raya yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, lalu tiba di Pelabuhan tradisional Wotu menumpang kapal tradisionail ke Malili untuk berangkat ke Makassar dengan Kapal Pemerintah yang terjadwal setiap dua minggu.

OSVIA Makassar adalah sekolah yang menampung dan mendidik murid-murid berprestasi dari kawasan Timur Indonesia yang akan disiapkan menjadi pemimpin di bidang pemerintahan.
S. Kabo menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1939, lalu setahun kemudian memulait tugas pertama di Sangir Talaud. Di tempat tugas perama, S. Kabo menemukan Gadis Manis, dari lingkungan keluarga bermagra Kansil, yang kemudian menjadi Pasangan Hidupnya. Dari Sangir Talaud, S. Kabo dimutasi di Luwuk Banggai lalu seterusnya di kembalikan ke negeri asalnya Poso.
Ketika Deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada keinginan untuk menunjuk W. L. Talasa, anak dari bapak Talasa, Mokole Banke Lemba Ntana Poso, sebagai Kepala Pemerintahan di Poso. Pertimbangannya, selain anak dari pemimpin kultural Tana Poso, W.L. Talasa juga baru saja kembali dari mengikuti Konferensi Raja-Raja se Sulawesi di Watampone dan Gowa Makassar, tetapi karena latar belakang pendidikannya yang hanya tamat pada sekolah Lanjutan Pertama dan mendapat pendidikan di sekolah Khatolik di Manado, sehingga Johanes Kruyt keberatan pengangkatan tersebut.
Dan Johanes Kruyt yang kembali ke Poso dari penahanannya pada masa Pendudukan Jepang di Manado, sekitar bulan September, menunjuk S. KABO sebagai Kepala Pemerintahan Poso. Keputusan ini mempertimbangkan latar belakang pendidikan Kabo yang berasal dari OSVIA Makassar. Tetapi, karena situasi pergolakan politik ketika itu sehingga status pemerintahan sendiri tidak jelas, terutama gangguan pertarungan politik lokal.

Selain bertugas di Poso di tengah situasi belum menentu, S. Kabo juga harus mengantikan tugas ayahnya Kabo yang meninggal tahun 1946 yang bertanggungjawab sebagai Magau Tampo Lore yang membawahi pemerintahan Biti Magau di Behoa dan Biti Magau di Bada.

Silih berganti pemerintahan, dan pada tahun 1955, S. Kabo di angkat sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Poso.
Ketika teradi krisis Politik di penghujung tahun desember 1957 - 1958, pertarungan antara Gerekan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) dengan Tentara PERMESTA di Poso, S. Kabo menjadi korban Politk dan nyaris meninggal dalam sekapan GPST.
Peristiwanya, ketika Pemuda-Pemuda GPST berhasil mengusir Tentara Permesta dan merebut Kota Poso, mereka menemukan S. Kabo di Kantor KPN, lalu pemuda-pemuda menangkap dan membawanya ke Tagolu dengan tuduhan tunggal sebagai Bupati Permesta. Bersyukur pada saat itu, Ia diselamatkan oleh Letnan Sanusi lalu membawanya mengungsi ke Parigi.
Atas tuduhan sebagai Bupati Permesta S. Kabo ditahan di Palu lalu kemudian dipindahkan ke Manado untuk menjalani persidangan militer.

Tahun 1964, Pengadilan Oditur Militer memutuskan bahwa S. Kabo diinyatakan tidak bersalah karena SK Pengangkatan sebagai KPN Poso adalah berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri. Bukan SK yang dikeluarkan Gubernur Sulawesi Utara ketika itu.
Kemudian, ia dikembalikan ke Sulawesi Tengah - Palu dan diangkat sebagai Residen Kordinator, RESKOR, yang umumnya dikenal oleh publik sebagai Gubernur Muda Provinsi Sulawesi Tengah.
S. Kabo kembali pada keabadian sorgawi pada 26 Djuni 1982 dan dibaringkan bersama leluhurnya di Wanga.

Renungan Malam untuk kekasih jiwaku
Dari orang Kampung yang rindu kampung sehingga sedikit kampungan.

1 komentar:

  1. Setau Saya Opa Kabo Lahir Tahun 1890 Dan Mempunyai istri Ke 2

    BalasHapus