Powered By Blogger

Minggu, 04 Maret 2012

MAKNA TAMPO PEKUREHUA SEBAGAI "TANA PENGHARAPAN"


NAPU secara etimologi adalah sebuah istilah yang memiliki stigma sosial yang diberikan oran pantai (Tobora) kepada orang yg hidup di pegunungan yakni berasal dari kata Naupuramo yang artinya Sudah Mati. Istilah ini muncul sebagai akibat kekalahan dalam perang. Dalam ceritra di sebutkan bahwa cara licik yang digunakan utuk membunuh itu adalah dengan memberi racun pada sumber-sumber air minum di wilayah Timur dengan racun yang diambil dari belut berwarna putih (Mahapi Bula). Akibat kematian massif dan kekalahan itu, masyarakat yang tersisah akhirnya menyingkir ke bagian selatan lembah tersebut dan membangun pemukiman-pemukiman, seperti Kampung Habingka, Baeau, Leboni, Lengaro, Lembokumo, Malibubu. dan lainnya. Istilah Tonapu semakin intes dipergunakan dalam perjumpaan dengan masyarakat pesisir Pantai Lembah Palu karena bersamaan dengan itu masyarakat Pegungan dari Bada hingga Napu menjadi wilayah Taklukan Kerajaan Bora. Dan akibat kekalahan itu, Orang Pegunungan ini setiap tahunnya harus membawa Upeti kepada Kerajaan Bora di Pesisir Pantai Lembah Palu.

Istilah lain yang lebih cultural nama lembah ini adalah Tampo Pekurehua. Secara etimologi diambil dari nyanyian burung KUREU. Istilah ini muncul dari ceritra rakyat tentang dua orang pemuda yang sedang berburuh di padang sekitar Peore untuk mencari hewan. Pada satu puncak bukit di di tengah padang tumbuh Pohon besar yang menjadi rumah dan tempat bersarang burung-burung. Kedua pemuda yang berburu seharian tersebut tiba di tempat itu, lalu segera burung-burung berbunyi, Kureu... Kureu. Kuureu. Kemudian secara naluri alamiah mereka menyebut bukit dan padang sekitarnya itu dengan Kureu. Posisi Lokasi bukit itu berada di bagian Timur Peore. Dan mengikuti dialek (rasa bertutur), Kureu diberi imbuhan sehingga menjadi Pe-Kureu-a (Pekureua). Tetapi kini masyarakat lebih enak menyebutnya dengan Pekurehua.
Dari latar belakang masyarakat budaya, ketika burung Kureu berbunyi itu berarti memberi pesan. Pemuda itu memberi arti bahwa suara burung tersebut adalah sebuah tanda bahwa mereka akan mendapatkan jerih lelah mereka. Lalu segera mereka memasang jerat mereka dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan reseki, sesuai keyakinan budaya mereka atas menafsirkan suara burung tersebut.
Makna lain dari burung Kureu adalah ketika mereka terbang. Bila burung itu terbang melintas lembah Napu dari arah Selatan ke Utara atau Utara - Selatan, itu berarti memberi tanda bahwa ada persoalan yang terjadi dikalangan pemimpin masyarakat. Demikian bila, burung tersebut dari arah Timur ke Barat memberi pesan bahwa ada dikalangan bangsawan yang akan meninggal.

Dari uraian di atas, makna kebudayaan yang dapat dikatan adalah Napu memiliki beban sosial (stigma) dalam relasi dengan masyarakat Pantai dalam hal ini Tokaili. Napu adalah orang yang kalah. Sebuah makna yang memiliki perspektif masa lalu.
Istilah Pekurehua mungkin sedikit memiliki makna Positif yakni Nyanyian alam yang memberi sebuah Pesan Pengharapan. Dan bila diangkat dalam cita rasa kebudayaan,maknanya dapat berarti Lembah Pekurehua adalah Tana Pengharapan. Sebuah makna cultural yang memiliki perspektif masa depan.

MAKNA PERADABAN "TAMPO LORE"

TAMPO lORE adalah istilah lain untuk mengenal lembah ini. Secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu Tampo (Indonesia; Tanah) dan Lore (Indonesia; daerah ketinggian). Bila mengambil makna Lore dari bahasa Pamona artinya adalah tanah yang lincin yang biasanya disebabkan oleh air hujan. Dalam masyarakat Budaya, Tampo Lore menunjuk pada sebidang tanah, atau kawasan yang berada di ketinggian. Tampo Lore juga menjadi sebuah simbol yang mempersekutukan kawasan Ngamba Bada, Behoa Ngamba - Behoa kakau, serta Tampo Pekurehua - Tawaelia.
Khusus makna Lore, kawan Amos Mondolu merefernsi pada makna yang ditemukannya dalam Kamus bahasa asing yaitu Peradaban. Dan di sini saya mengutip pegertian Lore dari kamus bahasa Inggris (Oxford English Dictionary), The stories and traditions of a particular group of people (Indonesia; Kisah dan kebudayaan kelompok masyarakat tertentu). Dan Cambridge Dictionary; Tradition Knowledge (Indonesia; Pengetahuan Budaya.

Menarik untuk mengembangkan rekomendasi Amos Mondolu tentang makna Tampo Lore bila menghubungkannya dengan makna yang dimaksudkan dalam kamus bahasa Inggris. Secara sederhana kita akan menemukan makna Tampo Lore dalam cita rasa kebudayaan yakni Tanah Beradab (Tampo Moada).
Menarik yang saya maksudkan adalah apakah Tana Moada punya kaitan langsung dengan Peradaban Megalit yang terhampar pada semua lembah sepajang sungai Lairiang.
Mulai dari Lembah Sedoa (Tawaelia) terdapat Putri Bunga Manila sebagai simbol Keabadian Cinta. Tiba di Powanuanga Watumaeta, akan ditemukan situs purbakala Jalan peradaban yang menghubungkan dengan Megalit Pekasele dan Pekatalinga di Powanuanga Tamadue. Kemudia jalan tersebut juga menghubungkan dengan Powanuanga Toihuku di Wanga. Dari Wanga, di Watutau akan menemukan Megalit Watu Molindo yang adalah satu-satunya megalit yang berdiri menghadap ke Utara (sayangnya beberapa bulan yang lalu patung ini nyaris dicuri, dan sekarang diamankan di pekarangan rumah Mantan Kepala Desat Watutau).
Selanjutnya, Magalit pasangan Suami istri yang terdapat di kampung Betue. melanjutkan perjalanan, di Rompo (Kawasan Behoa Kakau) terdapat patung seorang tentara perkasa. Mengambil jalang menyimpang sebelum tiba di Katu, akan ditemukan megalit Watu mogaa dan watu meboku yakni seorang ibu yang menggendong bayinya (akan dijelaskan secera khusus). Tidak jauh dari pemukiman di Katu, terdapat ratusan patung prajurit di Toro.
Meneruskan perjalanan ke Behoa Ngamba, di Bariri berdiri megah Megalit Watu Tadulako yakni seorang simbol Pahlawan. Dari Bariri ke arah barat akan tiba di Hanggira maka akan ditemukan hampaan dan berbagai jenis megalit dan kalamba. Melintas ke Ngamba Bada maka akan ditemukan megalit-megalit yang memberi simbok keperkasaan peradaban masa lalu.

Rekomendasi Simbol Identitas:
Kita telah mengenal 3 istilah untuk mengerti identitas,
Napu sebagai stigma sosial yang menunjuk pada kekalahan.
Tampo Pekurehua sebagai simbol Pengharapan, dan
Tampo Lore sebagai simbol Kearifan Budaya.

MENGHADAPI EKSPEDISI TENTARA BELANDA DALAM PERANG LAMBA (1903)

Di lingkungan orang-orang tua pemerhati sejarah leluhur Topekurehua, hampir terlupakan sejarah yang sangat penting mengenai ekspedisi pasukan tentara Belanda pertama ke Tampo Pekurehua. Secara garis besarnya persoalannya diawali dari tindakan sekelompok orang Napu yang gemar melakukan penyerangan-penyerang sporadis ke wilayah Poso yang dipimpin oleh Umana Baturu (Kareba). Kelihatannya kelompok yang dipimpin oleh Kareba ini dapat dikatakan tidak memiliki hubungan dengan garis kebijakan kepemimpinan pasukan yang dipimpin oleh Ama (Umana Soli). Sebut saja bahwa kepemimpinan Umana Baturu yang bermukim di Wuasa adalah kelompok yang melakukan penjarahan dan penyerangan sporadis serta berjalan sendiri yang berada di luar pengetahuan umana Soli di lamba.

Sekitar tahun 1903, Umana Baturu melakukan perampokan sekaligus membakar gudang perbekalan Pemerintah Hindia Belanda di Mapane (Poso). Atas insiden ini, beberapa orang (sekitar 9 orang) ditangkap dan dipenjarakan di Mapane termasuk pemimpinnya. Namun beberapa saat kemudian mereka berhasil melarikan diri dari tahanan dan menyembunyikan diri di perkampungan Wuasa.
(Perlu menjadi perhatian mengenai sejarah kritis bahwa tindakan Umana Baturu membakar gudang perbekalan di mapane oleh penulis sejarah Kaili menyebut sebagai perintah dari Tadulako Kalili. Pesan ideologis yang ingin dikatakan oleh penulis sejarah bahwa seluruh tindakan orang Napu terhadap penyerangan-penyerangan ke Poso adalah perintah dari penguasa Kalili sebagai konsekuensi sebagai daerah taklukan). Catatan selanjutnya bahwa kebiasaan Tonapu mengayau ke wilayah Poso sekaligus bermotifkan kepentingan ekonomi (perampokan terutama hasil ladang), dan ini kebiasaan yang tidak memiliki hubungan struktural dengan kerajaan Bora. Artinya Mengayau dan Perampokan ke wilayah Poso bukan atas perintah Kerajaan Bora.

Pelarian para tahanan tersebut, diikuti dengan pengejaran oleh Tentara Belanda yang dipimpin oleh Letnan Voskuil ke wilayah Napu melalui jalan dari Pinedapa yang baru 1 tahun sebelumnya di buka(1902). Saat tentara Belanda tiba di lembah Pekurehua untuk menangkap umana Baturu dan anak buahnya, tentara langsung menuju ke Lamba yang menjadi pusat kekuasaan, (sementara kelompok yang akan ditangkap bersembunyi di Wuasa). Konsekuensinya, Belanda langsung berhadapan dengan Umana Soli yang tidak mengetahui persoalan.
Menghadapi karakter kepahlawanan Umana Soli yang tidak mengenal kata menyerah, sehingga ia memilih melawan dari pada memenuhi permintaan Belanda untuk menyerahkan Umana Baturu dan kawan-kawannya. Dalam perang di Lamba, masih terlalu tangguh kekuatan budaya yang dimiliki oleh Ama dan pasukannya sehinga tentara Belanda yang sekalipun telah memakai persenjataan modern praktis tidak dapat menaklukkan umana Soli. Letnan Voskuil tidak berhasil menerobos benteng pertahanan di lamba sekalipun hanya terbuat dari rumpun-rumpun bambu. Tentara-tentara Belanda berhari-hari mengepung mengepung benteng pertahanan tersebut dengan sekali-kali melakukan tembakan senapan mesin yang diarakan secara membabi buta tampa sasaran yang jelas.

Setelah cukup lama tidak lagi terdengan suara tembakan dan diperkirakan tidak ada lagi tentara Belanda di sekitar benteng, Umana Soli meminta anaknya tertua (Soli) untuk mengamati situasi di luar. Sayangnya Tentara Belanda masih mengawasi benteng tersebut berhasil menangkap Soli lalu membawanya ke Poso. Dari Poso, Soli ditawan ke Manado untuk diperlihatkan kepada Gubernemen. Dan Soli tetap dalam pengasingan di Manado hingga akhir hayatnya.

Salam dalam Persaudaraan
Asyer