Powered By Blogger

Rabu, 30 November 2011

KERINDUANKU MENYALAHKAN LILIN DI TAMBI

Latar tata bangunan
TAMBI adalah istilah lokal yang dipakai di seluruh wilayah Tampo Lore untuk menunjuk pada rumah yang secara fungsional sebagai tempat tinggal satu rumpun keluarga atau pada zaman lampau tempat tinggal beberapa keluarga. Pada zaman lampau, seorang lelaki sebagai kepala keluarga dapat saja memiliki istri lebih dari satu (dalam bahasa lokal disebut mokarodua) dan tinggal bersama kedua istrinya dalam satu Tambi. Juga termasuk orang tua, (nenek kakek).
Dari bentuk bangunan rumah, Tambi berbentuk segi empat dan pada keempat sisinya berfungsi sebagai tempat tidur dan untuk menyimpan barang-barang milik anggota keluarga. Jadi bisa dibayangkan bagimana suasana hidup satu keluarga pada ruangan yang terbuka, tidak ada sekat (kamar) yang memisahkan satu dengan yang lainnya.
Sayangnya pada hari ini bangunan Tambi yang tersisah, terdapat di Kampung Katu, Doda dan Hanggira (Behoa).

Di posisi bangian tengah rumah terdapat dapur untuk tempat memasak yang digunakan oleh semua orang. Dapur adalah pusat perjumaan untuk saling memperhatikan saling melayani, bahkan menjadi tempat saling memaklumi perbedaan, kekurangan dan kelebihan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Dalam konteks masyarakat yang hidup di daerah pegunungan yang udaranya dingin,
posisi dapur untuk tempat menyalahkan api sekaligus berfungsi untuk tempat menghangatkan tubuh.
Demikian juga, dapur menjadi tempat untuk menerima tamu.
Suasana hidup keluarga yang dekat dan terbuka satu dengan yang lain.
Hampir tidak ada wilayah privacy.

Rekonstruksi Makna
Susana bangunan ruang kehidupan di dalam Tambi, sangat membantu untuk merekonstruksi makna kehidupan masyarakat Tampo Lore.

Dapur dan Api yang berada di tengah-tengah pusat aktifitas kehidupan telah menjadi kekuatan terbangunannya kehangatan hubungan kekeluargaan. Seorang Kepala keluarga yang memiliki istri, bahkan lebih dari satu, dengan jumlah anggota keluarga yang banyak dapat mengontrol dan membagi perhatian satu terhadap yang lain. Dapur benar-benar menjadi kekuatan yang mempersatukan, kekuatan yang menghangatkan persaudaraan dalam hubungan Suami dan Istri, hubungan orang tua dan anak-anak, hubungan antara anak-anak. Suasanan kehidupan inilah yang kemudian disebut dalam format budaya sebagai HANTAMBIANA.

Pola hidup Hantambiana inilah sebagai tempat lahir dan terbinanya nilai hidup (etika).
Kedua orang tua akan menyapa anak mereka dengan Ananta (anak kita)
Sebaliknya, anak-anak akan menyebut orang tua mereka Umanta hai Inanta.
Dan hubungan antara satu tambi dengan tambi lainya akan saling menyapa dengan sebutan Halalunta (Saudara kita).

Makna yang Berubah
Tergerusnya Tambi dari pemandangan sehari-hari dan digantikan oleh arsitektur bangunan yang modern serta merta membawa dampak perubahan dalam pola hidup kekeluargaan.
Bangunan rumah modern telah terdiri atas sekat-sekat. Orang tua berbeda kamar dengan anak-anak mereka. Dan anak-anak memiliki kamarnya masing-masing. Ruang kehidupan ini secara tidak langsung telah mengakui bahwa setiap orang memiliki wilayah privacy (pribadi) yang tidak boleh dimasuki oleh yang lainnya. Bahkan termasuk orang tuapun tidak boleh mengintervensinya.
Inilah nilai yang dihasilkan oleh peradaban modern.
Terlebih kencenderungan pada keluarga hari ini, enggannya untuk memiliki anak dalam jumlah besar. Akhirnya masing-masing orang tua mengidolakan (membedakan) secara emosional anak-anak. Bapak dekat dengan anak ini dan sebaliknya seorang Ibu dekat dengan anak tertentu.
Demikian selanjutnya perubahan ini semakin diperkuat oleh pola hidup generasi Tampo Pekurehua yang memiliki pengalaman dan terbangun emosional mereka dengan pola hidup di tempat-tempat lain, seperti mereka yang hidup di kota metropolitan.
Mentalitas Ego (saya adalah) menjadi sangat dominan.

Karakter nilai hidup Ego ini serta merta memberi pengaruh dalam relasi kekeluargaan.
Hubungan antara Suami - Istri; hunbungan orang tua dengan anak serta hubungan antara anak-anak akan dipengaruhi beban pemikiran kepentingan dan hubunga emosional pribadi.
Terjadi pergeseran kerenggangan kekelurgaan.
Seorang suami akan mengatakan kepada istrinya, lihat itu anak-mu!
Sebaliknya, seorang ibu akan mengatakan pada suaminya, Lihat itu anak-mu!
Demikian berdasarkan hubungan emosional berdasarkan beban kepentingan pribadi akan mengatakan Umangku atau Inangku.

Relasi emosinal kekerabatan yang berubah :
Dari sisi orang tua : Ananta ................................ Anamu
Anak-anak : Umanta atau Inanta .............. Umangku atau Inangku
Relasi antara Tambi : Halalunta ............................ Halalungku.

Refleksi Menyambut Natal
Tidak mungkin kita semua masyarakat Tampo Lore akan kembali ke dalam ruang kahidupan di Tambi. Tetapi, semangat HANTAMBIANA perlu pemaknaan kembali dan perayaan Natal 2011 ini adalah ruang bagi kita untuk menjadikannya :
a. Tambi kita jadikan tempat merangkai Pohon Natal sebagai simbol persaudaraan untuk hidup bersama dalam memperhatikan, menolong dan melayani.
b. Tambi yang menyiapkan ruang terbuka menjadikannya tempat menyalakan LILIN untuk menghangatkan persaudaraan dan memperkuat kekeluargaan kita.
c. Tambi sebagai rumah di mana kita dilahirkan dan bertumbuh menjadikannya tempat meletakkan Palungan Natal yang adalah simbol hati kita yang tulus untuk menutur kata yang hampir pudar ANANTA, UMANTA, INANTA hai HALALUNTA.

Renungan Malam untuk kekasih JIwaku,
Selamat Menyongsong Natal 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar