Powered By Blogger

Rabu, 30 November 2011

KERINDUANKU MENYALAHKAN LILIN DI TAMBI

Latar tata bangunan
TAMBI adalah istilah lokal yang dipakai di seluruh wilayah Tampo Lore untuk menunjuk pada rumah yang secara fungsional sebagai tempat tinggal satu rumpun keluarga atau pada zaman lampau tempat tinggal beberapa keluarga. Pada zaman lampau, seorang lelaki sebagai kepala keluarga dapat saja memiliki istri lebih dari satu (dalam bahasa lokal disebut mokarodua) dan tinggal bersama kedua istrinya dalam satu Tambi. Juga termasuk orang tua, (nenek kakek).
Dari bentuk bangunan rumah, Tambi berbentuk segi empat dan pada keempat sisinya berfungsi sebagai tempat tidur dan untuk menyimpan barang-barang milik anggota keluarga. Jadi bisa dibayangkan bagimana suasana hidup satu keluarga pada ruangan yang terbuka, tidak ada sekat (kamar) yang memisahkan satu dengan yang lainnya.
Sayangnya pada hari ini bangunan Tambi yang tersisah, terdapat di Kampung Katu, Doda dan Hanggira (Behoa).

Di posisi bangian tengah rumah terdapat dapur untuk tempat memasak yang digunakan oleh semua orang. Dapur adalah pusat perjumaan untuk saling memperhatikan saling melayani, bahkan menjadi tempat saling memaklumi perbedaan, kekurangan dan kelebihan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Dalam konteks masyarakat yang hidup di daerah pegunungan yang udaranya dingin,
posisi dapur untuk tempat menyalahkan api sekaligus berfungsi untuk tempat menghangatkan tubuh.
Demikian juga, dapur menjadi tempat untuk menerima tamu.
Suasana hidup keluarga yang dekat dan terbuka satu dengan yang lain.
Hampir tidak ada wilayah privacy.

Rekonstruksi Makna
Susana bangunan ruang kehidupan di dalam Tambi, sangat membantu untuk merekonstruksi makna kehidupan masyarakat Tampo Lore.

Dapur dan Api yang berada di tengah-tengah pusat aktifitas kehidupan telah menjadi kekuatan terbangunannya kehangatan hubungan kekeluargaan. Seorang Kepala keluarga yang memiliki istri, bahkan lebih dari satu, dengan jumlah anggota keluarga yang banyak dapat mengontrol dan membagi perhatian satu terhadap yang lain. Dapur benar-benar menjadi kekuatan yang mempersatukan, kekuatan yang menghangatkan persaudaraan dalam hubungan Suami dan Istri, hubungan orang tua dan anak-anak, hubungan antara anak-anak. Suasanan kehidupan inilah yang kemudian disebut dalam format budaya sebagai HANTAMBIANA.

Pola hidup Hantambiana inilah sebagai tempat lahir dan terbinanya nilai hidup (etika).
Kedua orang tua akan menyapa anak mereka dengan Ananta (anak kita)
Sebaliknya, anak-anak akan menyebut orang tua mereka Umanta hai Inanta.
Dan hubungan antara satu tambi dengan tambi lainya akan saling menyapa dengan sebutan Halalunta (Saudara kita).

Makna yang Berubah
Tergerusnya Tambi dari pemandangan sehari-hari dan digantikan oleh arsitektur bangunan yang modern serta merta membawa dampak perubahan dalam pola hidup kekeluargaan.
Bangunan rumah modern telah terdiri atas sekat-sekat. Orang tua berbeda kamar dengan anak-anak mereka. Dan anak-anak memiliki kamarnya masing-masing. Ruang kehidupan ini secara tidak langsung telah mengakui bahwa setiap orang memiliki wilayah privacy (pribadi) yang tidak boleh dimasuki oleh yang lainnya. Bahkan termasuk orang tuapun tidak boleh mengintervensinya.
Inilah nilai yang dihasilkan oleh peradaban modern.
Terlebih kencenderungan pada keluarga hari ini, enggannya untuk memiliki anak dalam jumlah besar. Akhirnya masing-masing orang tua mengidolakan (membedakan) secara emosional anak-anak. Bapak dekat dengan anak ini dan sebaliknya seorang Ibu dekat dengan anak tertentu.
Demikian selanjutnya perubahan ini semakin diperkuat oleh pola hidup generasi Tampo Pekurehua yang memiliki pengalaman dan terbangun emosional mereka dengan pola hidup di tempat-tempat lain, seperti mereka yang hidup di kota metropolitan.
Mentalitas Ego (saya adalah) menjadi sangat dominan.

Karakter nilai hidup Ego ini serta merta memberi pengaruh dalam relasi kekeluargaan.
Hubungan antara Suami - Istri; hunbungan orang tua dengan anak serta hubungan antara anak-anak akan dipengaruhi beban pemikiran kepentingan dan hubunga emosional pribadi.
Terjadi pergeseran kerenggangan kekelurgaan.
Seorang suami akan mengatakan kepada istrinya, lihat itu anak-mu!
Sebaliknya, seorang ibu akan mengatakan pada suaminya, Lihat itu anak-mu!
Demikian berdasarkan hubungan emosional berdasarkan beban kepentingan pribadi akan mengatakan Umangku atau Inangku.

Relasi emosinal kekerabatan yang berubah :
Dari sisi orang tua : Ananta ................................ Anamu
Anak-anak : Umanta atau Inanta .............. Umangku atau Inangku
Relasi antara Tambi : Halalunta ............................ Halalungku.

Refleksi Menyambut Natal
Tidak mungkin kita semua masyarakat Tampo Lore akan kembali ke dalam ruang kahidupan di Tambi. Tetapi, semangat HANTAMBIANA perlu pemaknaan kembali dan perayaan Natal 2011 ini adalah ruang bagi kita untuk menjadikannya :
a. Tambi kita jadikan tempat merangkai Pohon Natal sebagai simbol persaudaraan untuk hidup bersama dalam memperhatikan, menolong dan melayani.
b. Tambi yang menyiapkan ruang terbuka menjadikannya tempat menyalakan LILIN untuk menghangatkan persaudaraan dan memperkuat kekeluargaan kita.
c. Tambi sebagai rumah di mana kita dilahirkan dan bertumbuh menjadikannya tempat meletakkan Palungan Natal yang adalah simbol hati kita yang tulus untuk menutur kata yang hampir pudar ANANTA, UMANTA, INANTA hai HALALUNTA.

Renungan Malam untuk kekasih JIwaku,
Selamat Menyongsong Natal 2011.

Selasa, 29 November 2011

S. KABO PEWARIS KHARISMA KEPEMIMPINAN POLITE ( bagian 4)

oleh : ASYER TANDAPAI

Sejarah Tampo Lore modern sepanjang abad 20, dapat dikatakan sangat dipengaruhi oleh pondasi kharisma kepemimpinan yang dibangun dan ditinggalkan oleh POLITE.
Dari lingkungan keluarganya, muncul nama-nama yang kemudian meneruskan kepemimpinan bagi masyarakat Tampo Lore.

1. Bentu (anak angkat) adalah tokoh penting hadirnya kekeristenan yang dimulai dari lingkungan Tuana dan kemudian menjadi indentitas religiousitas seluruh masyarakat Tampo Lore.

2. MOSO, anak perempuan dari perkawinan dengan MBALE, adalah simbol yang mempersatukan dua rumpun masyarakat budaya, Pekurehua - Tawaelia, yaitu dari perkawinan dengan SAMPALI, Tuana yang berasal dari Sedoa.

3. Saudara (S) Kabo adalah anak kandung dari pasangan keluarga POLITE - KABO yang menjadi simbol perjumpaan masyarakat Lore dengan pendidiikan modern yang diperkenalkan oleh Pendidik Humanis dari Belanda.

4. Titus La'u adalah salah seorang yang berasal dari lingkungan keluarga Polite di Wanga kemudian menjadi simbol pemimpin masyarakat Lore pasca S. Kabo. (akan ditulis kemudian)

Dan pada tulisan sangat sederhana ini, perhatian akan di batasi pada S. Kabo.
S. Kabo adalah putra tunggal dan dua orang saudari putrinya dari perkawinan POLITE-KABO.
S. Kabo dilahirkan pada 07 - 10 - 1914 di Watutau dan selanjutnya memulai pendidikan di sekolah zending di sana. Menyelesaikan pendidikan dasar selama tiga tahun di kampung kelahirannya, kemudian orang tuanya mengantar untuk meneruskan ke sekolah sambungan yang berada di Poso.
Lalu berdasarkan kemampuan potensi intelektual sehingga memenuhi syarat untuk melanjutkan pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai Bahasa Penganatar, HIS, dalam proses belajar mengajar di Poso.
Menyelesaiakn pendidikan dari Holand Indische School, S. KABO sebagai orang yang pertama dari Midden Celebes (Sulawesi Tengah) yang diterima untuk bersekolah di OSVIA yaitu sekolah khusus bagi mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di pemerintahan.
Berita suka cita ini di sambut antuasias oleh keluarga. Secara khusus Polite mempersiapkan segengam emas sebagai modal yang sangat bernilai ketika itu untuk memberangkatkan putranya. Dari Wanga setelah meminta restu kepada orang tua, S. Kabo kembali ke Poso. Kemudian berjalan kaki melewati Pegunungan Takolekaju, deretan pegunungan rimba raya yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, lalu tiba di Pelabuhan tradisional Wotu menumpang kapal tradisionail ke Malili untuk berangkat ke Makassar dengan Kapal Pemerintah yang terjadwal setiap dua minggu.

OSVIA Makassar adalah sekolah yang menampung dan mendidik murid-murid berprestasi dari kawasan Timur Indonesia yang akan disiapkan menjadi pemimpin di bidang pemerintahan.
S. Kabo menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1939, lalu setahun kemudian memulait tugas pertama di Sangir Talaud. Di tempat tugas perama, S. Kabo menemukan Gadis Manis, dari lingkungan keluarga bermagra Kansil, yang kemudian menjadi Pasangan Hidupnya. Dari Sangir Talaud, S. Kabo dimutasi di Luwuk Banggai lalu seterusnya di kembalikan ke negeri asalnya Poso.
Ketika Deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada keinginan untuk menunjuk W. L. Talasa, anak dari bapak Talasa, Mokole Banke Lemba Ntana Poso, sebagai Kepala Pemerintahan di Poso. Pertimbangannya, selain anak dari pemimpin kultural Tana Poso, W.L. Talasa juga baru saja kembali dari mengikuti Konferensi Raja-Raja se Sulawesi di Watampone dan Gowa Makassar, tetapi karena latar belakang pendidikannya yang hanya tamat pada sekolah Lanjutan Pertama dan mendapat pendidikan di sekolah Khatolik di Manado, sehingga Johanes Kruyt keberatan pengangkatan tersebut.
Dan Johanes Kruyt yang kembali ke Poso dari penahanannya pada masa Pendudukan Jepang di Manado, sekitar bulan September, menunjuk S. KABO sebagai Kepala Pemerintahan Poso. Keputusan ini mempertimbangkan latar belakang pendidikan Kabo yang berasal dari OSVIA Makassar. Tetapi, karena situasi pergolakan politik ketika itu sehingga status pemerintahan sendiri tidak jelas, terutama gangguan pertarungan politik lokal.

Selain bertugas di Poso di tengah situasi belum menentu, S. Kabo juga harus mengantikan tugas ayahnya Kabo yang meninggal tahun 1946 yang bertanggungjawab sebagai Magau Tampo Lore yang membawahi pemerintahan Biti Magau di Behoa dan Biti Magau di Bada.

Silih berganti pemerintahan, dan pada tahun 1955, S. Kabo di angkat sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Poso.
Ketika teradi krisis Politik di penghujung tahun desember 1957 - 1958, pertarungan antara Gerekan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) dengan Tentara PERMESTA di Poso, S. Kabo menjadi korban Politk dan nyaris meninggal dalam sekapan GPST.
Peristiwanya, ketika Pemuda-Pemuda GPST berhasil mengusir Tentara Permesta dan merebut Kota Poso, mereka menemukan S. Kabo di Kantor KPN, lalu pemuda-pemuda menangkap dan membawanya ke Tagolu dengan tuduhan tunggal sebagai Bupati Permesta. Bersyukur pada saat itu, Ia diselamatkan oleh Letnan Sanusi lalu membawanya mengungsi ke Parigi.
Atas tuduhan sebagai Bupati Permesta S. Kabo ditahan di Palu lalu kemudian dipindahkan ke Manado untuk menjalani persidangan militer.

Tahun 1964, Pengadilan Oditur Militer memutuskan bahwa S. Kabo diinyatakan tidak bersalah karena SK Pengangkatan sebagai KPN Poso adalah berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri. Bukan SK yang dikeluarkan Gubernur Sulawesi Utara ketika itu.
Kemudian, ia dikembalikan ke Sulawesi Tengah - Palu dan diangkat sebagai Residen Kordinator, RESKOR, yang umumnya dikenal oleh publik sebagai Gubernur Muda Provinsi Sulawesi Tengah.
S. Kabo kembali pada keabadian sorgawi pada 26 Djuni 1982 dan dibaringkan bersama leluhurnya di Wanga.

Renungan Malam untuk kekasih jiwaku
Dari orang Kampung yang rindu kampung sehingga sedikit kampungan.

SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 2)

OLEH : ASYER TANDAPAI

POLITE adalah Sosok Perempuan Kuat dan Bijaksana yang menjadi simbol loyalitas kolektif masyarakat dan sealigus simbol penolakan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Paca Perang Peore 1907, pada tahun berikutnya direncanakan untuk menyusun kekuatan dan perlawanan terhadap Pemerintah Belanda yang berkedudukan di Poso. Sayangnya rencana tersebut terdeteksi dan akhirnya dilakukan penangkapan dan pembuangan beberapa orang ke Manado.

Kelihatannya, motif pemberian gelar Raja kepada Polite yang secara dejure adalah simbol pemerintahan dan sebaliknya pengangkatan Kabo (suami Polite) sebagai Magau yang berfungsi menjalankan pemerintahan adalah dalam kerangka untuk memutus hubungan emosional masyarakat terahadap Pemimpin kultural mereka yang sesungguhnya.
Kebijakan ini akhirnya berhasil menggeser peran dan wibawah Polite ke tempat yang dipersepsi bahwa seorang istri yang baik adalah harus bertanggung jawab mengatur rumah tangganya. Tanggungjawab inilah yang berkembang hingga di akhirhayatnya dan masyarakat mengenalnya dengan sebutan TOTUA I PODAKA. Dan sebaliknya, jadilah Kabo yang lebih banyak berkomunikasi dan lebih dikenal oleh masyarakat.

Dampak lain kehadiran Pemerintah Belanda adalah tumbuhnya sikap pro dan kontra dalam kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya, stigma sosial yang menuduh bahwa lingkungan keluarga besar Polite (Budaya Kraton Jawa menyebut Kelompok Abdi Dalem) memiliki pengetahuan Ilmu Sihir yang bertentangan dengan kaidah-kaidah sosial dan budaya. Inilah salah satu alasan Polite demi memelihara kewibawaan dan menyelamatkan masyarakatnya dari konflik dengan memboyong keluarga besarnya dan membangun perkampungan baru di Wanga pada tahun 1923-1925. Kebijakan perpindahan ini sejalan dengan program Pemerintah Belanda untuk memerkenalkan Sistem Pertanian Sawah. Walaupun demikian ada aura romantika yang mengatakan bahwa salah satu motif kepindahan tersebut adalah menghindari rivalitas antara Magau dengan seseorang demi memperebutkan seseorang.

Kearifan lain Polite adalah sikapnya yang menerima keputusan Magau untuk menikah denga seorang Perempuan cantik dan lebih muda di Kampung Torire. Sebenarnya dalam budaya Tampo Lore menikah lebih dari satu (Poligami) itu diterima yang dalam bahasa kebudayaannya disebut Mokarodua. Tetapi budaya ini telah mengalami masa krisis karena ajaran kekristenan yang mempersoalkannya. Karena itu, kearifan yang lebih dalam dimaksudkan adalah sikap penerimaan Polite pada kehadiran seorang perempuan cantik dan lebh muda untuk tinggal bersama dalam satu rumah, sementara ia sendiri telah diposisikan menanggung stigma TOTUA I PODAKA. Bahkan pada tahun kematian Kabo, 22 Djuni 1946, Polite menyerahkan satu kawanan, sekitar 50-100, ekor kerbau kepada istri kedua yang permisi untuk kembali ke kampungnya di Torire.

Ada hikmat yang sangat penting untuk belajar dari sikap hidup Polite yaitu keberpihakannya pada pendidikan yang melampau pandangan zamannya ketika itu. Sudara (S) Kabo, Putra tunggalnya, adalah orang pertama dari Midden Selebes yang mengikuti pendidikan resmi bagi calon pegawai Pemerintah Belanda yang bersekolah di OSVIA Makassar. Awal tahun 1930-an, S Kabo diberangkatkan dalam ketulusan, sekalpun harus berjalan kaki dari Poso melewati Pegunungan Taolekaju ke arah Selatan untuk tba di Makassar, untuk bersekolah. Sebuah visi bahwa masa depan masarakat dan negerinya harus dipimpin oleh generasi muda yang berpendidikan. Setelah S. Kabo menyeleseikan pendidikan di OSVIA Makassar tahun 1938, ia ditugaskan pertama kali di Sangir Talaud. Dan pada awal kemerdekaan, sekitar bulan September 1945, di tetapkan sebagai Kepala Pemerintahan Negeri Poso.
Yang menarik dari pandangan hidup Polite bahwa sebenarnya Ia ingin kedua putrinya juga bersekolah, hanya zamannya ketika itu belum memberi kesempatan kepada perempuan. Tetapi ia tidak berkecil hati dan memikirkan jalan lain mengijinkan kedua putrinya untuk mengikuti saudara laki-laki mereka, S. Kabo, yang bertugas di Sulawesi Utara dengan harapan bahwa mereka mendapatkan suami yang memiliki latar belakang pendidikan.
Yang ingin dikatakan di sini tentang kearifan Polite adalah kerelaan melepas anak-anaknya, Putra-Putri, untuk hidup terpisah dengan orang tua dengan harapan untuk mendapatkan pendidikan.
Itulah Sosok Perempuan Berkharisma.

Renungan Malam untuk Kekasih Jiwaku.
Dari Orang Kampung yang Cinta Kampung sehingga Sedikit Kampungan

SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 1)

OLEH : ASYER TANDAPAI

Dalam ingatan masyarakat budaya Tampo Lore yang meliputu Ngamba Bada, Ngamba Behoa dan Tampo Pekurehua - Tawaelia, Polite adalah sosok perempuan yang berkharisma dalam sejarah. Ayahnya adalah Abu yang berasal dari lingkungan Pemimpin masyarakat, dalam konsep Budaya Pekurehua disebut Tuana, yang awalnya menetap di Wanua Habingka. Namun karena dipilih oleh para tua-tua adat adat untuk memegang pemerintahan, sehingga keluarga ini berpindah ke Lamba yang menjadi pusat pemerintahan sebelum masuknya Belanda pada awal abad 20.

Sebagai seorang perempuan anggun dari lingkungan keluarga Tuana, Polite menikah dari lingkungan keluarga dekat (kerabat) yakni Mbale. Dari Pernikahan Polite - Mbale sebenarnya dikarunia 3 orang anak, tetapi beruntun yang 1 dan 2 meninggal. Persoalan ini oleh tua-tua adat dilihat sebagai kesalahan budaya karena menikah dalam lingkungan keluarga dekat. Sehingga itu ketika sedang mengandung anak ke-3, pernikahan mereka dipisahkan dan juga sebagai tindakan untuk menyelamatkan bayi yang dikandung. Dan pada akhirnya, Polite melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Moso. Nama itu sendiri memiliki makna budaya yang berarti Mamoso (mujarab). Kehadiran anak semata wayang tersebut sekaligus merubah status Polite dengan panggilan akrab Inana Moso. Kemudian hari Moso menikah dengan seorang pemuda bernama Sampali yang berasal dari lingkungan keluarga di Sedoa (Tawaelia).

Tidak begitu lama setelah melahirkan, Polite menikah dengan seorang Pemuda yang umurnya lebih muda (selisih sekitar 15- 20 tahun) bernama Kabo (lahir 1890). Dan dari pernikahan Polite - Kabo dikarunia seorang anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Anak laki-laki bernama S. Kabo yang mewarisi kharisma kepemimpinan ayah dan ibunya yang kemudian hari menghantarnya menduduki banyak abatan penting di Sulawesi Utara - Tengah, dan terakhir menjabat sebagai Gubernur Muda Propinsi Sulawesi Tengah.

Kharisma Polite, selain berdasarkan dari garis keturunan Tuana, keterlibatan dalam peristiwa Perang Peore 1907 semakin mengokohkan kebesarannya.
Perang besar yang melibatkan Tentara Pemerintah Hindia Belanda yang menggunakan persenjataan modern ketika itu berhadapan denga prajurit-prajurit Pekurehua yang menggunakan Penai (Parang yang dipercaya memiliki kekuatan) dan Tombak. Bagi Pemerintah Hindia Belanda. Perang Peore merupakan perang yang terakhir sebagai simbol takluknya perlawanan-perlawanan masyarakat lokal di seluruh Sulawesi. Ketika Perang Peore berlangsung dan korban tewas berkelimpangan di kedua pihak, Polite yang juga pada lengannya terhunus Penai juga menjadi sasaran tembkan Tentara Hindia Belanda. Namun kharisma yang dimilikinya hanya menyisahkan bekas lubang-lubang amunisi pada pakaian yang digunakan. Itulah sebuah bukti kebesaran Polite yang dapat selamat dari sasaran tembak membabi buta yang ditujukan ke tubuhnya. Ketika melihat mayat bergelimpang, sebagai rasa heroisme dan tanggung jawab masyarakat yang dipimpinnya untuk mengurangi korban jiwa yang akan terus berjatuhan, pada akhirnya Polite mengambil inisiatif naik ke atas rumah kekuasaannya (Duhunga) lalu mengibarkan bendera Putih sebagai tandah perang dihentikan.

Perang berakhir, masyarakat Tampo Lore berduka atas tewasnya pemimpin mereka, Umana Soli (Ama) dan sejumlah prajuritnya. Demikian Letnan Van Inget, Pemimpin Prajurit Hinda Belanda tewas bersama sejumlah besar pasukannya. Tersisa 2 orang dan berhasil melarikan diri dan memberi laporan kepada pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Poso.
Tewasnya Umana Soli (Ama) menjadi titik penting untuk melihat bagaimana kepemimpinan berpusat pada Sosok Seorang Perempuan yang sangat berkharisma. Kewibawaannya memimpin masyarakat untuk keluar dari perasaan trauma akbit perang adalah lahir dari pengalaman Peristiwa Perang yang dialaminya sendiri. Sehingga itu pada masanya, Polite adalah sosok yang sangat kuat dan dihormati oleh masyarakat yang dipimpinya.
Namun kemudian, setelah Tampo Lore telah berada dalam pengaturan tata Pemerintahan Hindia Belanda, Pemerintah melakukan semacam de-politisasi yakni mengurangi peran kepemiminan Tokoh Perempuan Berkharisma dengan mengangkat Kabo, suami Polite, sebagai pelaksana pemerintahan yaitu dengan gelar Magau. Gelar ini sendiri diadopsi dari gelar kepemimpinan tradisionil di Parigi dan Sigi.

Politik Pemerintah Hindia Belanda membuat pemisahan fungsi kepemimpinan, Polite diberi gelar Raja sebagai simbol kekuasaan dan Kabo diangkat sebagai pelaksana pemerintahan dengan gelar Magau. Tetapi dengan berkurangnya peran-peran kemasyarakatan Seorang Pemimpin Perempuan berkharisma pada akhirnya semakin mengantarkan hingga diakhir hanyatnya dengan sapaan yang akrab di Panggil Totua I Podaka. Artinya, Politik Belanda berhasil menyingkirkan peran kepemimpinan perempuan yang memiliki akar kultural dan sejarah perjuangan, kemudian digantikan dominasi kaum Patriakhal (laki-laki) sekalipun tidak memiliki kekuatan budaya sebagaimana istrinya. Akhirnya demikianlah politik berhasil menyudutkan perempuan untuk hanya mengurus Dapur. Totua I Podaka artinya orang Tua yang ada di dapur.

Renungan untuk Kekasih Jiwaku
Dari Orang Kampung yang Rindu Kampung sehingga sedikit Kampungan

REKAM JEJAK GAJAH MADA DI TAMPO LORE

REKAM JEJAK GAJAH MADA DI TAMPO LORE
oleh : ASYER TANDAPAI

Satu jejak peradaban penting di Tampo Lore adalah Ceritra tentang keberadaan tempat peristrahatan atau yang dalam konsep kebudayaan Jawa disebut Petilasan Gajah Mada. Lokasi tersebut berada di atas puncak satu bukit, sekitar tiga jam perjalanan kaki dari Desa Katu.

Pada tahun 1989, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, didukung oleh Kapolsek Lore Utara dan Kepada desa Talabosa dan Kepala Desa Katu yang secara berkala melakukan penelitian dan mengumpulkan informasi kepada masyarakkat yang tidak sengaja pernah ke tempat tersebut.
Beberapa catatan kesimpulan :
1. Di puncak Gunung tersebut di temukan banyak batu yang masih tersusun dalam jarak teratur yang memperlihatkan seperti bekas Pondasi Rumah Besar. 

2. Pada halaman depan (bagian timur) pondasi tersebut terdapat sebuah batu datar dan lubang, ada dugaan bahwa lubang pada btu tersebut adalah tempat untuk mengibarkan bendera atau semacam Simbol Perang.

3. Terdapat sebuah taman bunga, yang pada saat pertama tim menemukan lokasi memperlihatakan bahwa taman tersebut ada sentuhan perawatan.

4. Ditemukan tiga buah Batu berwarna Putih yang bertuliskan, namun tidak ada yang bisa menjelaskan maknanya.

5. Beberapa Kilometer dari puncak gunung tersebut (lokasinya antara Desa Rompo dan Desa Katu), ditemukan 2 buah Patung Manusia; 1 patung laki-laki yang memperlihatkan ukuran tubuhnya yang besar dengan rambutnya yang kelihatan seperti disanggul (masyarakat lokal menyebutnya Watu Mogaa Meboku). Yang unik dari Pantung ini adalah gambar wajahnya yang mirip dengan Wajah Patung Gajah Mada yang ada di Pulau Jawa. Tidak jauh dari tempat itu juga ditemukan satu Patung menyerupai wajah perempuan yang juga rambutnya di sanggul dan menggendon seorang anaknya.

Dari data-data di atas, dilakukan rekonstruksi mengikuti alur ceritra kisah Kehidupan Gajah Mada yang diangkat sebagai Panglima (1313) pada masa pemeritahan Ratu Tribhuwanatunggadewi di Kerajaan Majapahit. Gajah Mada adalah Panglima Perang yang berhasil mempersatukan Nusantara dan termasyur dengan Sumpah Palapa-nya.
Sayangnya bahwa Kehidupan Gajah Mada juga tidak tuntas dalam Sejarah Tanah Jawa, tetapi sekaligus ini juga penting bagi kemungkinan lanjutan kisahnya di tempat lain di nusantara ini.
Bagian penting dari kisahnya yang direkonstruksi dalam ceritra masyarakat Tampo Lore, adalah :
Pertama, menurut kisah Tanah Jawa bahwa ketika Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palawa, sempat disebutkan bahwa bila ia menggal, ia ingin disemayamkan di tengah nusantara. Bila membayangkan Nusantara yang pernah dipersatukan oleh Panglima Gajah Mada, Dari Sabang sampai Merauke; dari Alor sampai ke Talaud maka tengah nusantara itu adalah Pulau Sulawesi, dan tengah Pulau Sulawesi itu adalah berada di Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Kedua, menurut kisah bahwa ketika Gajah Mada melakukan ekspedisi ke Timur, Ia tiba di Pandang-Pandang (Gowa-Makassar), kemudian meneruskan perjalanan ke Utara (Manado). Tetapi dalam perjalanan, disebutkan Ia menghilang di Selat Makassar. Itulah kisah terakhir Perjalanan sejarah.
Bisa terjadi; bahwa ..menghilang ... yang dimaksudkan adalah Gajah Madah melakukan perjalanan menelusuri Pulau Sulawesi dengan mengikuti alur Sungai Lairiang yang bermuara di Mamaju Sulawesi Barat di Selat Makassar. Sungai terpanjang di Pulau Sulawesi Ini adalah berhulu di Lembah Tampo Lore, Kabupaten Poso.

Sayangnya, Penelitian Tim dari Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Poso itu diakhiri dengan perdebatan untuk menentukan satu kunci situs, yaitu tidak ditemukannya satu meja sebagai simbol kekuasaan seorang Raja. Perbedaan yang sesungguhnya tidak substansi ini mengakhiri pekerjaan mereka berblan-bulan bahkan dibalut semangat nasionalisme me3reka telah mendirikan Benderah Merah Putih di Puncak Gunung Yang dimaksud.

Dari pengalaman pribadi saya yang beberapa bulan lalu melakukan penelitian, dan dari informasi yang dikumpulkan kepada semua mereka yang telah melakukan penelitian dan masyarakat yang telah ke tempat tersebut; bahwa tempat tersebut memiliki aura misteri. Bila sepulah orang yang diminta untuk menceritrakan pengalamannya, maka kesepuluh orang tersebut akan memiliki pengalaman dan misteri berbeda yang disaksikan dan dialami.

Renungan Malam
Dari Orang Kampung Yang Cinta kampung sehingga sedikit Kampungan.

kebudayaan NAPU yang terkoyak

Napu..
sepintas yang terbayang jika mendengar kata itu adalah,sebuah desa dipegunungan yang terpencil jauh dari kota
namun kenyataannya napu adalah salah satu daerah yang mempunyai potensi alam yang sangat luar biasa..
baik dari segi Kebudayaannya,Napu tak kalah dengan daerah-daerah lainnya..
Di Lembah napu kita dapat menjumpai berbagai macam peninggalan2 sejarah yang sangat berharga,keanekargaman flora & faunanya juga dapat diperhitungkan.
Ditambah lagi dataran rumput hijau yang luas semakin memperkaya & memperindah napu..
Napu memang daerah yang sangat bersejarah dan mempunyai daya tarik yang baik.
Namun faktanya,semua yang ada dan dimiliki oleh Lembah napu hanya tinggal dalam cerita mulut ke mulut.
kebudayaannya kini mulai kendor,yang entah apa penyebabnya,
kita dapat mengambil contoh dari seni tari ''DONDI'' yang kini sudah semakin jarank untuk di pertunjukan atau diikutsertakan baik di acara formal maupun nonformal,apakah ini pengaruh dari zaman yang semakin berkembang atw kah pemerintah kurang memperhatikan perkembangan kebudayaan di tampo lore..??
tak adakah keprihatinan dihati kita semua khususnya masyarakat asli Napu
pertanyaannya sekarang adalah  apakah kebudayaan yang kita miliki itu hanya mampu untuk kita kenang,apakah kita hanya mampu bercerita kepada generasi-genarasi penerus bangsa kelak dengan rasa bangga bahwa kebudayaan yg dimiliki napu adalah kebudayaan yang telah mati.
oleh karena itu marilah kita sebagai masyarakat ataupun putra-putri daerah merasa terbebani dengan persoalan ini,agar kita tergerak untuk kembali dan berusaha membangkitkan kebudayaan yang hampir saja hilang,agar Napu tana yang kita cintai bisa di pandang dimata dunia