Rabu, 30 November 2011
Selasa, 29 November 2011
S. KABO PEWARIS KHARISMA KEPEMIMPINAN POLITE ( bagian 4)
oleh : ASYER TANDAPAI
Sejarah Tampo Lore modern sepanjang abad 20, dapat dikatakan sangat
dipengaruhi oleh pondasi kharisma kepemimpinan yang dibangun dan
ditinggalkan oleh POLITE.
Dari lingkungan keluarganya, muncul nama-nama yang kemudian meneruskan kepemimpinan bagi masyarakat Tampo Lore.
1. Bentu (anak angkat) adalah tokoh penting hadirnya kekeristenan yang
dimulai dari lingkungan Tuana dan kemudian menjadi indentitas
religiousitas seluruh masyarakat Tampo Lore.
2. MOSO, anak perempuan
dari perkawinan dengan MBALE, adalah simbol yang mempersatukan dua
rumpun masyarakat budaya, Pekurehua - Tawaelia, yaitu dari perkawinan
dengan SAMPALI, Tuana yang berasal dari Sedoa.
3. Saudara (S) Kabo
adalah anak kandung dari pasangan keluarga POLITE - KABO yang menjadi
simbol perjumpaan masyarakat Lore dengan pendidiikan modern yang
diperkenalkan oleh Pendidik Humanis dari Belanda.
4. Titus La'u
adalah salah seorang yang berasal dari lingkungan keluarga Polite di
Wanga kemudian menjadi simbol pemimpin masyarakat Lore pasca S. Kabo.
(akan ditulis kemudian)
Dan pada tulisan sangat sederhana ini, perhatian akan di batasi pada S. Kabo.
S. Kabo adalah putra tunggal dan dua orang saudari putrinya dari perkawinan POLITE-KABO.
S. Kabo dilahirkan pada 07 - 10 - 1914 di Watutau dan selanjutnya
memulai pendidikan di sekolah zending di sana. Menyelesaikan pendidikan
dasar selama tiga tahun di kampung kelahirannya, kemudian orang tuanya
mengantar untuk meneruskan ke sekolah sambungan yang berada di Poso.
Lalu berdasarkan kemampuan potensi intelektual sehingga memenuhi syarat
untuk melanjutkan pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai
Bahasa Penganatar, HIS, dalam proses belajar mengajar di Poso.
Menyelesaiakn pendidikan dari Holand Indische School, S. KABO sebagai
orang yang pertama dari Midden Celebes (Sulawesi Tengah) yang diterima
untuk bersekolah di OSVIA yaitu sekolah khusus bagi mereka yang
dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di pemerintahan.
Berita suka
cita ini di sambut antuasias oleh keluarga. Secara khusus Polite
mempersiapkan segengam emas sebagai modal yang sangat bernilai ketika
itu untuk memberangkatkan putranya. Dari Wanga setelah meminta restu
kepada orang tua, S. Kabo kembali ke Poso. Kemudian berjalan kaki
melewati Pegunungan Takolekaju, deretan pegunungan rimba raya yang
menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, lalu tiba di
Pelabuhan tradisional Wotu menumpang kapal tradisionail ke Malili untuk
berangkat ke Makassar dengan Kapal Pemerintah yang terjadwal setiap dua
minggu.
OSVIA Makassar adalah sekolah yang menampung dan
mendidik murid-murid berprestasi dari kawasan Timur Indonesia yang akan
disiapkan menjadi pemimpin di bidang pemerintahan.
S. Kabo
menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1939, lalu setahun kemudian
memulait tugas pertama di Sangir Talaud. Di tempat tugas perama, S. Kabo
menemukan Gadis Manis, dari lingkungan keluarga bermagra Kansil, yang
kemudian menjadi Pasangan Hidupnya. Dari Sangir Talaud, S. Kabo dimutasi
di Luwuk Banggai lalu seterusnya di kembalikan ke negeri asalnya Poso.
Ketika Deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada
keinginan untuk menunjuk W. L. Talasa, anak dari bapak Talasa, Mokole
Banke Lemba Ntana Poso, sebagai Kepala Pemerintahan di Poso.
Pertimbangannya, selain anak dari pemimpin kultural Tana Poso, W.L.
Talasa juga baru saja kembali dari mengikuti Konferensi Raja-Raja se
Sulawesi di Watampone dan Gowa Makassar, tetapi karena latar belakang
pendidikannya yang hanya tamat pada sekolah Lanjutan Pertama dan
mendapat pendidikan di sekolah Khatolik di Manado, sehingga Johanes
Kruyt keberatan pengangkatan tersebut.
Dan Johanes Kruyt yang
kembali ke Poso dari penahanannya pada masa Pendudukan Jepang di Manado,
sekitar bulan September, menunjuk S. KABO sebagai Kepala Pemerintahan
Poso. Keputusan ini mempertimbangkan latar belakang pendidikan Kabo yang
berasal dari OSVIA Makassar. Tetapi, karena situasi pergolakan politik
ketika itu sehingga status pemerintahan sendiri tidak jelas, terutama
gangguan pertarungan politik lokal.
Selain bertugas di Poso di
tengah situasi belum menentu, S. Kabo juga harus mengantikan tugas
ayahnya Kabo yang meninggal tahun 1946 yang bertanggungjawab sebagai
Magau Tampo Lore yang membawahi pemerintahan Biti Magau di Behoa dan
Biti Magau di Bada.
Silih berganti pemerintahan, dan pada tahun 1955, S. Kabo di angkat sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Poso.
Ketika teradi krisis Politik di penghujung tahun desember 1957 - 1958,
pertarungan antara Gerekan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) dengan Tentara
PERMESTA di Poso, S. Kabo menjadi korban Politk dan nyaris meninggal
dalam sekapan GPST.
Peristiwanya, ketika Pemuda-Pemuda GPST berhasil
mengusir Tentara Permesta dan merebut Kota Poso, mereka menemukan S.
Kabo di Kantor KPN, lalu pemuda-pemuda menangkap dan membawanya ke
Tagolu dengan tuduhan tunggal sebagai Bupati Permesta. Bersyukur pada
saat itu, Ia diselamatkan oleh Letnan Sanusi lalu membawanya mengungsi
ke Parigi.
Atas tuduhan sebagai Bupati Permesta S. Kabo ditahan di
Palu lalu kemudian dipindahkan ke Manado untuk menjalani persidangan
militer.
Tahun 1964, Pengadilan Oditur Militer memutuskan bahwa
S. Kabo diinyatakan tidak bersalah karena SK Pengangkatan sebagai KPN
Poso adalah berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri. Bukan SK yang
dikeluarkan Gubernur Sulawesi Utara ketika itu.
Kemudian, ia
dikembalikan ke Sulawesi Tengah - Palu dan diangkat sebagai Residen
Kordinator, RESKOR, yang umumnya dikenal oleh publik sebagai Gubernur
Muda Provinsi Sulawesi Tengah.
S. Kabo kembali pada keabadian sorgawi pada 26 Djuni 1982 dan dibaringkan bersama leluhurnya di Wanga.
Renungan Malam untuk kekasih jiwaku
Dari orang Kampung yang rindu kampung sehingga sedikit kampungan.
SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 2)
OLEH : ASYER TANDAPAI
POLITE adalah Sosok Perempuan Kuat dan Bijaksana yang menjadi simbol
loyalitas kolektif masyarakat dan sealigus simbol penolakan terhadap
Pemerintah Hindia Belanda. Paca Perang Peore 1907, pada tahun berikutnya
direncanakan untuk menyusun kekuatan dan perlawanan terhadap Pemerintah
Belanda yang berkedudukan di Poso. Sayangnya rencana tersebut
terdeteksi dan akhirnya dilakukan penangkapan dan pembuangan beberapa
orang ke Manado.
Kelihatannya, motif pemberian gelar Raja
kepada Polite yang secara dejure adalah simbol pemerintahan dan
sebaliknya pengangkatan Kabo (suami Polite) sebagai Magau yang berfungsi
menjalankan pemerintahan adalah dalam kerangka untuk memutus hubungan
emosional masyarakat terahadap Pemimpin kultural mereka yang
sesungguhnya.
Kebijakan ini akhirnya berhasil menggeser peran dan
wibawah Polite ke tempat yang dipersepsi bahwa seorang istri yang baik
adalah harus bertanggung jawab mengatur rumah tangganya. Tanggungjawab
inilah yang berkembang hingga di akhirhayatnya dan masyarakat
mengenalnya dengan sebutan TOTUA I PODAKA. Dan sebaliknya, jadilah Kabo
yang lebih banyak berkomunikasi dan lebih dikenal oleh masyarakat.
Dampak lain kehadiran Pemerintah Belanda adalah tumbuhnya sikap pro dan
kontra dalam kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya, stigma sosial yang
menuduh bahwa lingkungan keluarga besar Polite (Budaya Kraton Jawa
menyebut Kelompok Abdi Dalem) memiliki pengetahuan Ilmu Sihir yang
bertentangan dengan kaidah-kaidah sosial dan budaya. Inilah salah satu
alasan Polite demi memelihara kewibawaan dan menyelamatkan masyarakatnya
dari konflik dengan memboyong keluarga besarnya dan membangun
perkampungan baru di Wanga pada tahun 1923-1925. Kebijakan perpindahan
ini sejalan dengan program Pemerintah Belanda untuk memerkenalkan Sistem
Pertanian Sawah. Walaupun demikian ada aura romantika yang mengatakan
bahwa salah satu motif kepindahan tersebut adalah menghindari rivalitas
antara Magau dengan seseorang demi memperebutkan seseorang.
Kearifan lain Polite adalah sikapnya yang menerima keputusan Magau untuk
menikah denga seorang Perempuan cantik dan lebih muda di Kampung
Torire. Sebenarnya dalam budaya Tampo Lore menikah lebih dari satu
(Poligami) itu diterima yang dalam bahasa kebudayaannya disebut
Mokarodua. Tetapi budaya ini telah mengalami masa krisis karena ajaran
kekristenan yang mempersoalkannya. Karena itu, kearifan yang lebih dalam
dimaksudkan adalah sikap penerimaan Polite pada kehadiran seorang
perempuan cantik dan lebh muda untuk tinggal bersama dalam satu rumah,
sementara ia sendiri telah diposisikan menanggung stigma TOTUA I PODAKA.
Bahkan pada tahun kematian Kabo, 22 Djuni 1946, Polite menyerahkan satu
kawanan, sekitar 50-100, ekor kerbau kepada istri kedua yang permisi
untuk kembali ke kampungnya di Torire.
Ada hikmat yang
sangat penting untuk belajar dari sikap hidup Polite yaitu
keberpihakannya pada pendidikan yang melampau pandangan zamannya ketika
itu. Sudara (S) Kabo, Putra tunggalnya, adalah orang pertama dari Midden
Selebes yang mengikuti pendidikan resmi bagi calon pegawai Pemerintah
Belanda yang bersekolah di OSVIA Makassar. Awal tahun 1930-an, S Kabo
diberangkatkan dalam ketulusan, sekalpun harus berjalan kaki dari Poso
melewati Pegunungan Taolekaju ke arah Selatan untuk tba di Makassar,
untuk bersekolah. Sebuah visi bahwa masa depan masarakat dan negerinya
harus dipimpin oleh generasi muda yang berpendidikan. Setelah S. Kabo
menyeleseikan pendidikan di OSVIA Makassar tahun 1938, ia ditugaskan
pertama kali di Sangir Talaud. Dan pada awal kemerdekaan, sekitar bulan
September 1945, di tetapkan sebagai Kepala Pemerintahan Negeri Poso.
Yang menarik dari pandangan hidup Polite bahwa sebenarnya Ia ingin
kedua putrinya juga bersekolah, hanya zamannya ketika itu belum memberi
kesempatan kepada perempuan. Tetapi ia tidak berkecil hati dan
memikirkan jalan lain mengijinkan kedua putrinya untuk mengikuti saudara
laki-laki mereka, S. Kabo, yang bertugas di Sulawesi Utara dengan
harapan bahwa mereka mendapatkan suami yang memiliki latar belakang
pendidikan.
Yang ingin dikatakan di sini tentang kearifan Polite
adalah kerelaan melepas anak-anaknya, Putra-Putri, untuk hidup terpisah
dengan orang tua dengan harapan untuk mendapatkan pendidikan.
Itulah Sosok Perempuan Berkharisma.
Renungan Malam untuk Kekasih Jiwaku.
Dari Orang Kampung yang Cinta Kampung sehingga Sedikit Kampungan
SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 1)
OLEH : ASYER TANDAPAI
Dalam ingatan masyarakat budaya Tampo Lore yang meliputu Ngamba Bada,
Ngamba Behoa dan Tampo Pekurehua - Tawaelia, Polite adalah sosok
perempuan yang berkharisma dalam sejarah. Ayahnya adalah Abu yang
berasal dari lingkungan Pemimpin masyarakat, dalam konsep Budaya
Pekurehua disebut Tuana, yang awalnya menetap di Wanua Habingka. Namun
karena dipilih oleh para tua-tua adat adat untuk memegang pemerintahan,
sehingga keluarga ini berpindah ke Lamba yang menjadi pusat pemerintahan
sebelum masuknya Belanda pada awal abad 20.
Sebagai seorang
perempuan anggun dari lingkungan keluarga Tuana, Polite menikah dari
lingkungan keluarga dekat (kerabat) yakni Mbale. Dari Pernikahan Polite -
Mbale sebenarnya dikarunia 3 orang anak, tetapi beruntun yang 1 dan 2
meninggal. Persoalan ini oleh tua-tua adat dilihat sebagai kesalahan
budaya karena menikah dalam lingkungan keluarga dekat. Sehingga itu
ketika sedang mengandung anak ke-3, pernikahan mereka dipisahkan dan
juga sebagai tindakan untuk menyelamatkan bayi yang dikandung. Dan pada
akhirnya, Polite melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama
Moso. Nama itu sendiri memiliki makna budaya yang berarti Mamoso
(mujarab). Kehadiran anak semata wayang tersebut sekaligus merubah
status Polite dengan panggilan akrab Inana Moso. Kemudian hari Moso
menikah dengan seorang pemuda bernama Sampali yang berasal dari
lingkungan keluarga di Sedoa (Tawaelia).
Tidak begitu lama
setelah melahirkan, Polite menikah dengan seorang Pemuda yang umurnya
lebih muda (selisih sekitar 15- 20 tahun) bernama Kabo (lahir 1890). Dan
dari pernikahan Polite - Kabo dikarunia seorang anak laki-laki dan 2
anak perempuan. Anak laki-laki bernama S. Kabo yang mewarisi kharisma
kepemimpinan ayah dan ibunya yang kemudian hari menghantarnya menduduki
banyak abatan penting di Sulawesi Utara - Tengah, dan terakhir menjabat
sebagai Gubernur Muda Propinsi Sulawesi Tengah.
Kharisma
Polite, selain berdasarkan dari garis keturunan Tuana, keterlibatan
dalam peristiwa Perang Peore 1907 semakin mengokohkan kebesarannya.
Perang besar yang melibatkan Tentara Pemerintah Hindia Belanda yang
menggunakan persenjataan modern ketika itu berhadapan denga
prajurit-prajurit Pekurehua yang menggunakan Penai (Parang yang
dipercaya memiliki kekuatan) dan Tombak. Bagi Pemerintah Hindia Belanda.
Perang Peore merupakan perang yang terakhir sebagai simbol takluknya
perlawanan-perlawanan masyarakat lokal di seluruh Sulawesi. Ketika
Perang Peore berlangsung dan korban tewas berkelimpangan di kedua pihak,
Polite yang juga pada lengannya terhunus Penai juga menjadi sasaran
tembkan Tentara Hindia Belanda. Namun kharisma yang dimilikinya hanya
menyisahkan bekas lubang-lubang amunisi pada pakaian yang digunakan.
Itulah sebuah bukti kebesaran Polite yang dapat selamat dari sasaran
tembak membabi buta yang ditujukan ke tubuhnya. Ketika melihat mayat
bergelimpang, sebagai rasa heroisme dan tanggung jawab masyarakat yang
dipimpinnya untuk mengurangi korban jiwa yang akan terus berjatuhan,
pada akhirnya Polite mengambil inisiatif naik ke atas rumah kekuasaannya
(Duhunga) lalu mengibarkan bendera Putih sebagai tandah perang
dihentikan.
Perang berakhir, masyarakat Tampo Lore berduka
atas tewasnya pemimpin mereka, Umana Soli (Ama) dan sejumlah
prajuritnya. Demikian Letnan Van Inget, Pemimpin Prajurit Hinda Belanda
tewas bersama sejumlah besar pasukannya. Tersisa 2 orang dan berhasil
melarikan diri dan memberi laporan kepada pemerintah Hindia Belanda yang
berkedudukan di Poso.
Tewasnya Umana Soli (Ama) menjadi titik
penting untuk melihat bagaimana kepemimpinan berpusat pada Sosok Seorang
Perempuan yang sangat berkharisma. Kewibawaannya memimpin masyarakat
untuk keluar dari perasaan trauma akbit perang adalah lahir dari
pengalaman Peristiwa Perang yang dialaminya sendiri. Sehingga itu pada
masanya, Polite adalah sosok yang sangat kuat dan dihormati oleh
masyarakat yang dipimpinya.
Namun kemudian, setelah Tampo Lore
telah berada dalam pengaturan tata Pemerintahan Hindia Belanda,
Pemerintah melakukan semacam de-politisasi yakni mengurangi peran
kepemiminan Tokoh Perempuan Berkharisma dengan mengangkat Kabo, suami
Polite, sebagai pelaksana pemerintahan yaitu dengan gelar Magau. Gelar
ini sendiri diadopsi dari gelar kepemimpinan tradisionil di Parigi dan
Sigi.
Politik Pemerintah Hindia Belanda membuat pemisahan
fungsi kepemimpinan, Polite diberi gelar Raja sebagai simbol kekuasaan
dan Kabo diangkat sebagai pelaksana pemerintahan dengan gelar Magau.
Tetapi dengan berkurangnya peran-peran kemasyarakatan Seorang Pemimpin
Perempuan berkharisma pada akhirnya semakin mengantarkan hingga diakhir
hanyatnya dengan sapaan yang akrab di Panggil Totua I Podaka. Artinya,
Politik Belanda berhasil menyingkirkan peran kepemimpinan perempuan yang
memiliki akar kultural dan sejarah perjuangan, kemudian digantikan
dominasi kaum Patriakhal (laki-laki) sekalipun tidak memiliki kekuatan
budaya sebagaimana istrinya. Akhirnya demikianlah politik berhasil
menyudutkan perempuan untuk hanya mengurus Dapur. Totua I Podaka artinya
orang Tua yang ada di dapur.
Renungan untuk Kekasih Jiwaku
Dari Orang Kampung yang Rindu Kampung sehingga sedikit Kampungan
REKAM JEJAK GAJAH MADA DI TAMPO LORE
REKAM JEJAK GAJAH MADA DI TAMPO LORE
oleh : ASYER TANDAPAI
Satu jejak peradaban penting di Tampo Lore adalah Ceritra tentang
keberadaan tempat peristrahatan atau yang dalam konsep kebudayaan Jawa
disebut Petilasan Gajah Mada. Lokasi tersebut berada di atas puncak satu
bukit, sekitar tiga jam perjalanan kaki dari Desa Katu.
Pada
tahun 1989, Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan Kecamatan Lore Utara,
Kabupaten Poso, didukung oleh Kapolsek Lore Utara dan Kepada desa
Talabosa dan Kepala Desa Katu yang secara berkala melakukan penelitian
dan mengumpulkan informasi kepada masyarakkat yang tidak sengaja pernah
ke tempat tersebut.
Beberapa catatan kesimpulan :
1. Di puncak
Gunung tersebut di temukan banyak batu yang masih tersusun dalam jarak
teratur yang memperlihatkan seperti bekas Pondasi Rumah Besar.
2.
Pada halaman depan (bagian timur) pondasi tersebut terdapat sebuah batu
datar dan lubang, ada dugaan bahwa lubang pada btu tersebut adalah
tempat untuk mengibarkan bendera atau semacam Simbol Perang.
3.
Terdapat sebuah taman bunga, yang pada saat pertama tim menemukan lokasi
memperlihatakan bahwa taman tersebut ada sentuhan perawatan.
4. Ditemukan tiga buah Batu berwarna Putih yang bertuliskan, namun tidak ada yang bisa menjelaskan maknanya.
5. Beberapa Kilometer dari puncak gunung tersebut (lokasinya antara
Desa Rompo dan Desa Katu), ditemukan 2 buah Patung Manusia; 1 patung
laki-laki yang memperlihatkan ukuran tubuhnya yang besar dengan
rambutnya yang kelihatan seperti disanggul (masyarakat lokal menyebutnya
Watu Mogaa Meboku). Yang unik dari Pantung ini adalah gambar wajahnya
yang mirip dengan Wajah Patung Gajah Mada yang ada di Pulau Jawa. Tidak
jauh dari tempat itu juga ditemukan satu Patung menyerupai wajah
perempuan yang juga rambutnya di sanggul dan menggendon seorang anaknya.
Dari data-data di atas, dilakukan rekonstruksi mengikuti alur ceritra
kisah Kehidupan Gajah Mada yang diangkat sebagai Panglima (1313) pada
masa pemeritahan Ratu Tribhuwanatunggadewi di Kerajaan Majapahit. Gajah
Mada adalah Panglima Perang yang berhasil mempersatukan Nusantara dan
termasyur dengan Sumpah Palapa-nya.
Sayangnya bahwa Kehidupan Gajah
Mada juga tidak tuntas dalam Sejarah Tanah Jawa, tetapi sekaligus ini
juga penting bagi kemungkinan lanjutan kisahnya di tempat lain di
nusantara ini.
Bagian penting dari kisahnya yang direkonstruksi dalam ceritra masyarakat Tampo Lore, adalah :
Pertama, menurut kisah Tanah Jawa bahwa ketika Gajah Mada mengikrarkan
Sumpah Palawa, sempat disebutkan bahwa bila ia menggal, ia ingin
disemayamkan di tengah nusantara. Bila membayangkan Nusantara yang
pernah dipersatukan oleh Panglima Gajah Mada, Dari Sabang sampai
Merauke; dari Alor sampai ke Talaud maka tengah nusantara itu adalah
Pulau Sulawesi, dan tengah Pulau Sulawesi itu adalah berada di Taman
Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Kedua,
menurut kisah bahwa ketika Gajah Mada melakukan ekspedisi ke Timur, Ia
tiba di Pandang-Pandang (Gowa-Makassar), kemudian meneruskan perjalanan
ke Utara (Manado). Tetapi dalam perjalanan, disebutkan Ia menghilang di
Selat Makassar. Itulah kisah terakhir Perjalanan sejarah.
Bisa
terjadi; bahwa ..menghilang ... yang dimaksudkan adalah Gajah Madah
melakukan perjalanan menelusuri Pulau Sulawesi dengan mengikuti alur
Sungai Lairiang yang bermuara di Mamaju Sulawesi Barat di Selat
Makassar. Sungai terpanjang di Pulau Sulawesi Ini adalah berhulu di
Lembah Tampo Lore, Kabupaten Poso.
Sayangnya, Penelitian Tim
dari Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Poso itu diakhiri
dengan perdebatan untuk menentukan satu kunci situs, yaitu tidak
ditemukannya satu meja sebagai simbol kekuasaan seorang Raja. Perbedaan
yang sesungguhnya tidak substansi ini mengakhiri pekerjaan mereka
berblan-bulan bahkan dibalut semangat nasionalisme me3reka telah
mendirikan Benderah Merah Putih di Puncak Gunung Yang dimaksud.
Dari pengalaman pribadi saya yang beberapa bulan lalu melakukan
penelitian, dan dari informasi yang dikumpulkan kepada semua mereka yang
telah melakukan penelitian dan masyarakat yang telah ke tempat
tersebut; bahwa tempat tersebut memiliki aura misteri. Bila sepulah
orang yang diminta untuk menceritrakan pengalamannya, maka kesepuluh
orang tersebut akan memiliki pengalaman dan misteri berbeda yang
disaksikan dan dialami.
Renungan Malam
Dari Orang Kampung Yang Cinta kampung sehingga sedikit Kampungan.
kebudayaan NAPU yang terkoyak
Napu..
sepintas yang terbayang jika mendengar kata itu adalah,sebuah desa dipegunungan yang terpencil jauh dari kota
namun kenyataannya napu adalah salah satu daerah yang mempunyai potensi alam yang sangat luar biasa..
baik dari segi Kebudayaannya,Napu tak kalah dengan daerah-daerah lainnya..
Di Lembah napu kita dapat menjumpai berbagai macam peninggalan2 sejarah yang sangat berharga,keanekargaman flora & faunanya juga dapat diperhitungkan.
Ditambah lagi dataran rumput hijau yang luas semakin memperkaya & memperindah napu..
Napu memang daerah yang sangat bersejarah dan mempunyai daya tarik yang baik.
Namun faktanya,semua yang ada dan dimiliki oleh Lembah napu hanya tinggal dalam cerita mulut ke mulut.
kebudayaannya kini mulai kendor,yang entah apa penyebabnya,
kita dapat mengambil contoh dari seni tari ''DONDI'' yang kini sudah semakin jarank untuk di pertunjukan atau diikutsertakan baik di acara formal maupun nonformal,apakah ini pengaruh dari zaman yang semakin berkembang atw kah pemerintah kurang memperhatikan perkembangan kebudayaan di tampo lore..??
tak adakah keprihatinan dihati kita semua khususnya masyarakat asli Napu
pertanyaannya sekarang adalah apakah kebudayaan yang kita miliki itu hanya mampu untuk kita kenang,apakah kita hanya mampu bercerita kepada generasi-genarasi penerus bangsa kelak dengan rasa bangga bahwa kebudayaan yg dimiliki napu adalah kebudayaan yang telah mati.
oleh karena itu marilah kita sebagai masyarakat ataupun putra-putri daerah merasa terbebani dengan persoalan ini,agar kita tergerak untuk kembali dan berusaha membangkitkan kebudayaan yang hampir saja hilang,agar Napu tana yang kita cintai bisa di pandang dimata dunia
sepintas yang terbayang jika mendengar kata itu adalah,sebuah desa dipegunungan yang terpencil jauh dari kota
namun kenyataannya napu adalah salah satu daerah yang mempunyai potensi alam yang sangat luar biasa..
baik dari segi Kebudayaannya,Napu tak kalah dengan daerah-daerah lainnya..
Di Lembah napu kita dapat menjumpai berbagai macam peninggalan2 sejarah yang sangat berharga,keanekargaman flora & faunanya juga dapat diperhitungkan.
Ditambah lagi dataran rumput hijau yang luas semakin memperkaya & memperindah napu..
Napu memang daerah yang sangat bersejarah dan mempunyai daya tarik yang baik.
Namun faktanya,semua yang ada dan dimiliki oleh Lembah napu hanya tinggal dalam cerita mulut ke mulut.
kebudayaannya kini mulai kendor,yang entah apa penyebabnya,
kita dapat mengambil contoh dari seni tari ''DONDI'' yang kini sudah semakin jarank untuk di pertunjukan atau diikutsertakan baik di acara formal maupun nonformal,apakah ini pengaruh dari zaman yang semakin berkembang atw kah pemerintah kurang memperhatikan perkembangan kebudayaan di tampo lore..??
tak adakah keprihatinan dihati kita semua khususnya masyarakat asli Napu
pertanyaannya sekarang adalah apakah kebudayaan yang kita miliki itu hanya mampu untuk kita kenang,apakah kita hanya mampu bercerita kepada generasi-genarasi penerus bangsa kelak dengan rasa bangga bahwa kebudayaan yg dimiliki napu adalah kebudayaan yang telah mati.
oleh karena itu marilah kita sebagai masyarakat ataupun putra-putri daerah merasa terbebani dengan persoalan ini,agar kita tergerak untuk kembali dan berusaha membangkitkan kebudayaan yang hampir saja hilang,agar Napu tana yang kita cintai bisa di pandang dimata dunia
Langganan:
Komentar (Atom)
