TAMPO lORE adalah istilah lain untuk mengenal lembah ini. Secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu Tampo (Indonesia; Tanah) dan Lore (Indonesia; daerah ketinggian). Bila mengambil makna Lore dari bahasa Pamona artinya adalah tanah yang lincin yang biasanya disebabkan oleh air hujan. Dalam masyarakat Budaya, Tampo Lore menunjuk pada sebidang tanah, atau kawasan yang berada di ketinggian. Tampo Lore juga menjadi sebuah simbol yang mempersekutukan kawasan Ngamba Bada, Behoa Ngamba - Behoa kakau, serta Tampo Pekurehua - Tawaelia.
Khusus makna Lore, kawan Amos Mondolu merefernsi pada makna yang ditemukannya dalam Kamus bahasa asing yaitu Peradaban. Dan di sini saya mengutip pegertian Lore dari kamus bahasa Inggris (Oxford English Dictionary), The stories and traditions of a particular group of people (Indonesia; Kisah dan kebudayaan kelompok masyarakat tertentu). Dan Cambridge Dictionary; Tradition Knowledge (Indonesia; Pengetahuan Budaya.
Menarik untuk mengembangkan rekomendasi Amos Mondolu tentang makna Tampo Lore bila menghubungkannya dengan makna yang dimaksudkan dalam kamus bahasa Inggris. Secara sederhana kita akan menemukan makna Tampo Lore dalam cita rasa kebudayaan yakni Tanah Beradab (Tampo Moada).
Menarik yang saya maksudkan adalah apakah Tana Moada punya kaitan langsung dengan Peradaban Megalit yang terhampar pada semua lembah sepajang sungai Lairiang.
Mulai dari Lembah Sedoa (Tawaelia) terdapat Putri Bunga Manila sebagai simbol Keabadian Cinta. Tiba di Powanuanga Watumaeta, akan ditemukan situs purbakala Jalan peradaban yang menghubungkan dengan Megalit Pekasele dan Pekatalinga di Powanuanga Tamadue. Kemudia jalan tersebut juga menghubungkan dengan Powanuanga Toihuku di Wanga. Dari Wanga, di Watutau akan menemukan Megalit Watu Molindo yang adalah satu-satunya megalit yang berdiri menghadap ke Utara (sayangnya beberapa bulan yang lalu patung ini nyaris dicuri, dan sekarang diamankan di pekarangan rumah Mantan Kepala Desat Watutau).
Selanjutnya, Magalit pasangan Suami istri yang terdapat di kampung Betue. melanjutkan perjalanan, di Rompo (Kawasan Behoa Kakau) terdapat patung seorang tentara perkasa. Mengambil jalang menyimpang sebelum tiba di Katu, akan ditemukan megalit Watu mogaa dan watu meboku yakni seorang ibu yang menggendong bayinya (akan dijelaskan secera khusus). Tidak jauh dari pemukiman di Katu, terdapat ratusan patung prajurit di Toro.
Meneruskan perjalanan ke Behoa Ngamba, di Bariri berdiri megah Megalit Watu Tadulako yakni seorang simbol Pahlawan. Dari Bariri ke arah barat akan tiba di Hanggira maka akan ditemukan hampaan dan berbagai jenis megalit dan kalamba. Melintas ke Ngamba Bada maka akan ditemukan megalit-megalit yang memberi simbok keperkasaan peradaban masa lalu.
Rekomendasi Simbol Identitas:
Kita telah mengenal 3 istilah untuk mengerti identitas,
Napu sebagai stigma sosial yang menunjuk pada kekalahan.
Tampo Pekurehua sebagai simbol Pengharapan, dan
Tampo Lore sebagai simbol Kearifan Budaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar