Powered By Blogger

Selasa, 29 November 2011

SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 1)

OLEH : ASYER TANDAPAI

Dalam ingatan masyarakat budaya Tampo Lore yang meliputu Ngamba Bada, Ngamba Behoa dan Tampo Pekurehua - Tawaelia, Polite adalah sosok perempuan yang berkharisma dalam sejarah. Ayahnya adalah Abu yang berasal dari lingkungan Pemimpin masyarakat, dalam konsep Budaya Pekurehua disebut Tuana, yang awalnya menetap di Wanua Habingka. Namun karena dipilih oleh para tua-tua adat adat untuk memegang pemerintahan, sehingga keluarga ini berpindah ke Lamba yang menjadi pusat pemerintahan sebelum masuknya Belanda pada awal abad 20.

Sebagai seorang perempuan anggun dari lingkungan keluarga Tuana, Polite menikah dari lingkungan keluarga dekat (kerabat) yakni Mbale. Dari Pernikahan Polite - Mbale sebenarnya dikarunia 3 orang anak, tetapi beruntun yang 1 dan 2 meninggal. Persoalan ini oleh tua-tua adat dilihat sebagai kesalahan budaya karena menikah dalam lingkungan keluarga dekat. Sehingga itu ketika sedang mengandung anak ke-3, pernikahan mereka dipisahkan dan juga sebagai tindakan untuk menyelamatkan bayi yang dikandung. Dan pada akhirnya, Polite melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Moso. Nama itu sendiri memiliki makna budaya yang berarti Mamoso (mujarab). Kehadiran anak semata wayang tersebut sekaligus merubah status Polite dengan panggilan akrab Inana Moso. Kemudian hari Moso menikah dengan seorang pemuda bernama Sampali yang berasal dari lingkungan keluarga di Sedoa (Tawaelia).

Tidak begitu lama setelah melahirkan, Polite menikah dengan seorang Pemuda yang umurnya lebih muda (selisih sekitar 15- 20 tahun) bernama Kabo (lahir 1890). Dan dari pernikahan Polite - Kabo dikarunia seorang anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Anak laki-laki bernama S. Kabo yang mewarisi kharisma kepemimpinan ayah dan ibunya yang kemudian hari menghantarnya menduduki banyak abatan penting di Sulawesi Utara - Tengah, dan terakhir menjabat sebagai Gubernur Muda Propinsi Sulawesi Tengah.

Kharisma Polite, selain berdasarkan dari garis keturunan Tuana, keterlibatan dalam peristiwa Perang Peore 1907 semakin mengokohkan kebesarannya.
Perang besar yang melibatkan Tentara Pemerintah Hindia Belanda yang menggunakan persenjataan modern ketika itu berhadapan denga prajurit-prajurit Pekurehua yang menggunakan Penai (Parang yang dipercaya memiliki kekuatan) dan Tombak. Bagi Pemerintah Hindia Belanda. Perang Peore merupakan perang yang terakhir sebagai simbol takluknya perlawanan-perlawanan masyarakat lokal di seluruh Sulawesi. Ketika Perang Peore berlangsung dan korban tewas berkelimpangan di kedua pihak, Polite yang juga pada lengannya terhunus Penai juga menjadi sasaran tembkan Tentara Hindia Belanda. Namun kharisma yang dimilikinya hanya menyisahkan bekas lubang-lubang amunisi pada pakaian yang digunakan. Itulah sebuah bukti kebesaran Polite yang dapat selamat dari sasaran tembak membabi buta yang ditujukan ke tubuhnya. Ketika melihat mayat bergelimpang, sebagai rasa heroisme dan tanggung jawab masyarakat yang dipimpinnya untuk mengurangi korban jiwa yang akan terus berjatuhan, pada akhirnya Polite mengambil inisiatif naik ke atas rumah kekuasaannya (Duhunga) lalu mengibarkan bendera Putih sebagai tandah perang dihentikan.

Perang berakhir, masyarakat Tampo Lore berduka atas tewasnya pemimpin mereka, Umana Soli (Ama) dan sejumlah prajuritnya. Demikian Letnan Van Inget, Pemimpin Prajurit Hinda Belanda tewas bersama sejumlah besar pasukannya. Tersisa 2 orang dan berhasil melarikan diri dan memberi laporan kepada pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Poso.
Tewasnya Umana Soli (Ama) menjadi titik penting untuk melihat bagaimana kepemimpinan berpusat pada Sosok Seorang Perempuan yang sangat berkharisma. Kewibawaannya memimpin masyarakat untuk keluar dari perasaan trauma akbit perang adalah lahir dari pengalaman Peristiwa Perang yang dialaminya sendiri. Sehingga itu pada masanya, Polite adalah sosok yang sangat kuat dan dihormati oleh masyarakat yang dipimpinya.
Namun kemudian, setelah Tampo Lore telah berada dalam pengaturan tata Pemerintahan Hindia Belanda, Pemerintah melakukan semacam de-politisasi yakni mengurangi peran kepemiminan Tokoh Perempuan Berkharisma dengan mengangkat Kabo, suami Polite, sebagai pelaksana pemerintahan yaitu dengan gelar Magau. Gelar ini sendiri diadopsi dari gelar kepemimpinan tradisionil di Parigi dan Sigi.

Politik Pemerintah Hindia Belanda membuat pemisahan fungsi kepemimpinan, Polite diberi gelar Raja sebagai simbol kekuasaan dan Kabo diangkat sebagai pelaksana pemerintahan dengan gelar Magau. Tetapi dengan berkurangnya peran-peran kemasyarakatan Seorang Pemimpin Perempuan berkharisma pada akhirnya semakin mengantarkan hingga diakhir hanyatnya dengan sapaan yang akrab di Panggil Totua I Podaka. Artinya, Politik Belanda berhasil menyingkirkan peran kepemimpinan perempuan yang memiliki akar kultural dan sejarah perjuangan, kemudian digantikan dominasi kaum Patriakhal (laki-laki) sekalipun tidak memiliki kekuatan budaya sebagaimana istrinya. Akhirnya demikianlah politik berhasil menyudutkan perempuan untuk hanya mengurus Dapur. Totua I Podaka artinya orang Tua yang ada di dapur.

Renungan untuk Kekasih Jiwaku
Dari Orang Kampung yang Rindu Kampung sehingga sedikit Kampungan

7 komentar:

  1. org bada ya....wah makasih ya tulisannya aku suka bgt krn nenek ku org bada juga ...klu ada fb invite ya Hajra Rasmita

    BalasHapus
  2. opa dan oma saya ( fb jacky armando kabo )

    BalasHapus
  3. Ratu Pekurehua adalah Polite (Tuana asli) To Pekurehua. Magau Kabo hanya diangkat oleh Hindia Belanda berdasarkan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Manado.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya... cucu.. dari..oma Eno sampali... mngucapkan trimakasih kepada saudara yg sudah mnjelaskan.. riwayat nenek leluhur kami RATU PEKUREHUA ""POLITE"""

      Hapus
  4. kakak, bagus tulisannya.. dapat referensi dimana yah?

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Terima kasih penulis Bapak Asyer Tandapai, Memang benar sejarah ini... saya mengetahuinya dari tua-tua persis sama dengan tulisan ini bahwa Polite adalah Ratu Pekurehua asli yang akhirnya menikah dengan Kabo dan diangkat sebagai Magau di zaman kekuasaan Belanda.
    Saya sangat bangga memiliki leluhur Polite yang sangat Heroid saat perang Peore, dan saya sangat menghormati keluarga Sampali sebagai keturunan Pemoso (Inana Magi) anak tertua dari Polite yang lahir dari rahim Polite. S.Kabo dan 2 saudara perempuan lainnya juga dilahirkan dari rahim Ratu Polite yang sangat berkharisma hasil pernikahan dengan Kabo yang diangkat sebagai Magau oleh Hindia Belanda.
    Sangat jelas penjelasan tentang siapa Ratu Polite.

    Tulisan lain di kutip dari Penulis: Pramaartha Pode, FB

    Sebelum berdirinya Kerajaan Lore dipercayai telah ada lebih dulu Kerajaan Raba. Raba diartikan sebagai tanah yang turun ke bawah atau dengan kata lain wilayah yang membentuk suatu lembah yang ada di wilayah Pekurehua.
    Yang ada dalam ingatan rakyat,pusat Kerajaan Laba berada di Lamba. Raja pertama dari Kerajaan Laba bernama Raba dan istrinya adalah Waba. Kerajaan Laba lalu berganti nama menjadi Kerajaan Pekurehua lalu dikenal lagi menjadi Kerajaan Lore.
    Pasca Raja Laba yang berkedudukan di Lamba, tidak diketahui bagaimana struktur Kerajaan masyarakat Lore saat itu.
    Yang ada dalam ingatan masyarakat pada akhir abad ke-19 (1800 – 1900), terdapat beberapa bangsawan berpengaruh dan tersebar di beberapa desa, seperti Ngkai Abu (Umana Aso) di desa Habingka, Ngkai “Sumpi” di Watutau dan Ngkai Rabeta (Umana Tosende).
    Kisah mengenai Raja Lore, dimulai ketika putra Ngkai Abu bernama Pantula menikah dengan putri Ngkai Rabeta bernama Poindo yang lalu melahirkan 5 (lima) orang anak, yakni:

    * Pertama, Tado atau biasa disebut Umana Lolo, ditawan Belanda dan dibawa ke Menado.
    * Kedua, Inana Ngela (Perempuan)
    * Ketiga, Inana Do’u (perempuan)
    * Keempat, Polite (Perempuan)
    * Kelima, Makada (laki-laki), gugur dalam Perang Peore Juli 1907.

    Ketika Umana Lolo ditawan Belanda dan belum diketahui keberadaannya hingga hari ini, dan ketika Makada, putra terakhir meninggal dalam perang Peore maka tinggal terdapat 3 (tiga) anak Perempuan, salah satunya adalah Polite
    Polite kemudian dikenal merupakan Ibu dari Ngkai S. Kabo yang kemudian diangkat Belanda sebagai Raja Lore.

    Dibalik kisah ini sesungguhnya kisah mengenai Napu sangat menarik untuk ditelusuri karena disamping tokoh yang berpengaruh Ngkai Abu, juga terapat sosok Oema i Soli yang dikenal Belanda dengan sangat baik.
    Sehingga pada saat itu kalau kita liat setidaknya ada dua kekuatan besar di Napu yakni klan Ngkai Abu dan klan Oema i Soli.
    Sejarah mencatat sebenarnya antara kedua klan ini sempat dipersatukan melalui perkawinan antara Nene Polite dan Ngkai Mbale yang adalah adik kandung dari Oema i Soli dan melahirkan seorang putri bernama Pemoso (Inana Magi).

    Tabea, Don Kabo

    BalasHapus