Powered By Blogger

Selasa, 29 November 2011

SOSOK PEREMPUAN BERKHARISMA DI TAMPO LORE (bagian 2)

OLEH : ASYER TANDAPAI

POLITE adalah Sosok Perempuan Kuat dan Bijaksana yang menjadi simbol loyalitas kolektif masyarakat dan sealigus simbol penolakan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Paca Perang Peore 1907, pada tahun berikutnya direncanakan untuk menyusun kekuatan dan perlawanan terhadap Pemerintah Belanda yang berkedudukan di Poso. Sayangnya rencana tersebut terdeteksi dan akhirnya dilakukan penangkapan dan pembuangan beberapa orang ke Manado.

Kelihatannya, motif pemberian gelar Raja kepada Polite yang secara dejure adalah simbol pemerintahan dan sebaliknya pengangkatan Kabo (suami Polite) sebagai Magau yang berfungsi menjalankan pemerintahan adalah dalam kerangka untuk memutus hubungan emosional masyarakat terahadap Pemimpin kultural mereka yang sesungguhnya.
Kebijakan ini akhirnya berhasil menggeser peran dan wibawah Polite ke tempat yang dipersepsi bahwa seorang istri yang baik adalah harus bertanggung jawab mengatur rumah tangganya. Tanggungjawab inilah yang berkembang hingga di akhirhayatnya dan masyarakat mengenalnya dengan sebutan TOTUA I PODAKA. Dan sebaliknya, jadilah Kabo yang lebih banyak berkomunikasi dan lebih dikenal oleh masyarakat.

Dampak lain kehadiran Pemerintah Belanda adalah tumbuhnya sikap pro dan kontra dalam kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya, stigma sosial yang menuduh bahwa lingkungan keluarga besar Polite (Budaya Kraton Jawa menyebut Kelompok Abdi Dalem) memiliki pengetahuan Ilmu Sihir yang bertentangan dengan kaidah-kaidah sosial dan budaya. Inilah salah satu alasan Polite demi memelihara kewibawaan dan menyelamatkan masyarakatnya dari konflik dengan memboyong keluarga besarnya dan membangun perkampungan baru di Wanga pada tahun 1923-1925. Kebijakan perpindahan ini sejalan dengan program Pemerintah Belanda untuk memerkenalkan Sistem Pertanian Sawah. Walaupun demikian ada aura romantika yang mengatakan bahwa salah satu motif kepindahan tersebut adalah menghindari rivalitas antara Magau dengan seseorang demi memperebutkan seseorang.

Kearifan lain Polite adalah sikapnya yang menerima keputusan Magau untuk menikah denga seorang Perempuan cantik dan lebih muda di Kampung Torire. Sebenarnya dalam budaya Tampo Lore menikah lebih dari satu (Poligami) itu diterima yang dalam bahasa kebudayaannya disebut Mokarodua. Tetapi budaya ini telah mengalami masa krisis karena ajaran kekristenan yang mempersoalkannya. Karena itu, kearifan yang lebih dalam dimaksudkan adalah sikap penerimaan Polite pada kehadiran seorang perempuan cantik dan lebh muda untuk tinggal bersama dalam satu rumah, sementara ia sendiri telah diposisikan menanggung stigma TOTUA I PODAKA. Bahkan pada tahun kematian Kabo, 22 Djuni 1946, Polite menyerahkan satu kawanan, sekitar 50-100, ekor kerbau kepada istri kedua yang permisi untuk kembali ke kampungnya di Torire.

Ada hikmat yang sangat penting untuk belajar dari sikap hidup Polite yaitu keberpihakannya pada pendidikan yang melampau pandangan zamannya ketika itu. Sudara (S) Kabo, Putra tunggalnya, adalah orang pertama dari Midden Selebes yang mengikuti pendidikan resmi bagi calon pegawai Pemerintah Belanda yang bersekolah di OSVIA Makassar. Awal tahun 1930-an, S Kabo diberangkatkan dalam ketulusan, sekalpun harus berjalan kaki dari Poso melewati Pegunungan Taolekaju ke arah Selatan untuk tba di Makassar, untuk bersekolah. Sebuah visi bahwa masa depan masarakat dan negerinya harus dipimpin oleh generasi muda yang berpendidikan. Setelah S. Kabo menyeleseikan pendidikan di OSVIA Makassar tahun 1938, ia ditugaskan pertama kali di Sangir Talaud. Dan pada awal kemerdekaan, sekitar bulan September 1945, di tetapkan sebagai Kepala Pemerintahan Negeri Poso.
Yang menarik dari pandangan hidup Polite bahwa sebenarnya Ia ingin kedua putrinya juga bersekolah, hanya zamannya ketika itu belum memberi kesempatan kepada perempuan. Tetapi ia tidak berkecil hati dan memikirkan jalan lain mengijinkan kedua putrinya untuk mengikuti saudara laki-laki mereka, S. Kabo, yang bertugas di Sulawesi Utara dengan harapan bahwa mereka mendapatkan suami yang memiliki latar belakang pendidikan.
Yang ingin dikatakan di sini tentang kearifan Polite adalah kerelaan melepas anak-anaknya, Putra-Putri, untuk hidup terpisah dengan orang tua dengan harapan untuk mendapatkan pendidikan.
Itulah Sosok Perempuan Berkharisma.

Renungan Malam untuk Kekasih Jiwaku.
Dari Orang Kampung yang Cinta Kampung sehingga Sedikit Kampungan

2 komentar:

  1. sejarah ini di ambil dari mana yah? dan setau saya magao lore mempunyai banyak anak laki laki dari istri ke 2 nya

    BalasHapus
  2. Saya pikir cukup jelas judul cerita tentang wanita Bangsawan berhati ikhlas. Yg mempunyai satu-satunya anak lelaki. Bukan tentang siapa saja turunan Magao Lore.

    BalasHapus