OLEH : ASYER TANDAPAI
POLITE adalah Sosok Perempuan Kuat dan Bijaksana yang menjadi simbol
loyalitas kolektif masyarakat dan sealigus simbol penolakan terhadap
Pemerintah Hindia Belanda. Paca Perang Peore 1907, pada tahun berikutnya
direncanakan untuk menyusun kekuatan dan perlawanan terhadap Pemerintah
Belanda yang berkedudukan di Poso. Sayangnya rencana tersebut
terdeteksi dan akhirnya dilakukan penangkapan dan pembuangan beberapa
orang ke Manado.
Kelihatannya, motif pemberian gelar Raja
kepada Polite yang secara dejure adalah simbol pemerintahan dan
sebaliknya pengangkatan Kabo (suami Polite) sebagai Magau yang berfungsi
menjalankan pemerintahan adalah dalam kerangka untuk memutus hubungan
emosional masyarakat terahadap Pemimpin kultural mereka yang
sesungguhnya.
Kebijakan ini akhirnya berhasil menggeser peran dan
wibawah Polite ke tempat yang dipersepsi bahwa seorang istri yang baik
adalah harus bertanggung jawab mengatur rumah tangganya. Tanggungjawab
inilah yang berkembang hingga di akhirhayatnya dan masyarakat
mengenalnya dengan sebutan TOTUA I PODAKA. Dan sebaliknya, jadilah Kabo
yang lebih banyak berkomunikasi dan lebih dikenal oleh masyarakat.
Dampak lain kehadiran Pemerintah Belanda adalah tumbuhnya sikap pro dan
kontra dalam kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya, stigma sosial yang
menuduh bahwa lingkungan keluarga besar Polite (Budaya Kraton Jawa
menyebut Kelompok Abdi Dalem) memiliki pengetahuan Ilmu Sihir yang
bertentangan dengan kaidah-kaidah sosial dan budaya. Inilah salah satu
alasan Polite demi memelihara kewibawaan dan menyelamatkan masyarakatnya
dari konflik dengan memboyong keluarga besarnya dan membangun
perkampungan baru di Wanga pada tahun 1923-1925. Kebijakan perpindahan
ini sejalan dengan program Pemerintah Belanda untuk memerkenalkan Sistem
Pertanian Sawah. Walaupun demikian ada aura romantika yang mengatakan
bahwa salah satu motif kepindahan tersebut adalah menghindari rivalitas
antara Magau dengan seseorang demi memperebutkan seseorang.
Kearifan lain Polite adalah sikapnya yang menerima keputusan Magau untuk
menikah denga seorang Perempuan cantik dan lebih muda di Kampung
Torire. Sebenarnya dalam budaya Tampo Lore menikah lebih dari satu
(Poligami) itu diterima yang dalam bahasa kebudayaannya disebut
Mokarodua. Tetapi budaya ini telah mengalami masa krisis karena ajaran
kekristenan yang mempersoalkannya. Karena itu, kearifan yang lebih dalam
dimaksudkan adalah sikap penerimaan Polite pada kehadiran seorang
perempuan cantik dan lebh muda untuk tinggal bersama dalam satu rumah,
sementara ia sendiri telah diposisikan menanggung stigma TOTUA I PODAKA.
Bahkan pada tahun kematian Kabo, 22 Djuni 1946, Polite menyerahkan satu
kawanan, sekitar 50-100, ekor kerbau kepada istri kedua yang permisi
untuk kembali ke kampungnya di Torire.
Ada hikmat yang
sangat penting untuk belajar dari sikap hidup Polite yaitu
keberpihakannya pada pendidikan yang melampau pandangan zamannya ketika
itu. Sudara (S) Kabo, Putra tunggalnya, adalah orang pertama dari Midden
Selebes yang mengikuti pendidikan resmi bagi calon pegawai Pemerintah
Belanda yang bersekolah di OSVIA Makassar. Awal tahun 1930-an, S Kabo
diberangkatkan dalam ketulusan, sekalpun harus berjalan kaki dari Poso
melewati Pegunungan Taolekaju ke arah Selatan untuk tba di Makassar,
untuk bersekolah. Sebuah visi bahwa masa depan masarakat dan negerinya
harus dipimpin oleh generasi muda yang berpendidikan. Setelah S. Kabo
menyeleseikan pendidikan di OSVIA Makassar tahun 1938, ia ditugaskan
pertama kali di Sangir Talaud. Dan pada awal kemerdekaan, sekitar bulan
September 1945, di tetapkan sebagai Kepala Pemerintahan Negeri Poso.
Yang menarik dari pandangan hidup Polite bahwa sebenarnya Ia ingin
kedua putrinya juga bersekolah, hanya zamannya ketika itu belum memberi
kesempatan kepada perempuan. Tetapi ia tidak berkecil hati dan
memikirkan jalan lain mengijinkan kedua putrinya untuk mengikuti saudara
laki-laki mereka, S. Kabo, yang bertugas di Sulawesi Utara dengan
harapan bahwa mereka mendapatkan suami yang memiliki latar belakang
pendidikan.
Yang ingin dikatakan di sini tentang kearifan Polite
adalah kerelaan melepas anak-anaknya, Putra-Putri, untuk hidup terpisah
dengan orang tua dengan harapan untuk mendapatkan pendidikan.
Itulah Sosok Perempuan Berkharisma.
Renungan Malam untuk Kekasih Jiwaku.
Dari Orang Kampung yang Cinta Kampung sehingga Sedikit Kampungan
sejarah ini di ambil dari mana yah? dan setau saya magao lore mempunyai banyak anak laki laki dari istri ke 2 nya
BalasHapusSaya pikir cukup jelas judul cerita tentang wanita Bangsawan berhati ikhlas. Yg mempunyai satu-satunya anak lelaki. Bukan tentang siapa saja turunan Magao Lore.
BalasHapus